Translate

Friday, October 2, 2015

Lelaki Bertato Dadu


Semua jenis judi telah dia jalani. Dari togel sampai Russian Roulette pernah dia coba. Menang sudah biasa. Kalah hanyalah selingan untuknya , semacam bagi-bagi kebahagiaan hasil kemenangannya.

Beberapa hari ini dia mulai sedikit bosan dengan semua jenis perjudian. Skor bola gampang dia tebak, skor basket pun nyaris sempurna dia tebak, beli togel sampai kena larangan bandar karena kemampuannya membaca pola. Semua terasa membosankan. 

Bangun tidur, berteman kopi. Melihat berita olah raga semua taruhannya menang. Membosankan! Mengganti chanel dengan acak tetiba matanya terbelalak memandang berita di TV. Kerumunan wartawan yang meliput sidang perceraian pasangan selebritis ibu kota. Ganti chanel lagi, Stasiun TV yang lain menyiarkan berita itu juga. Semua media berlomba. Dia buka laptop, banyak portal berita yang membahas itu juga. 

Berita politik, bencana alam, matinya aktivis pejuang kelestarian alam, koruptor dalam penjara yang kembali ketahuan jalan-jalan dan banyak lagi semua hanya semacam buih. Cuma jadi alas kaki berita perceraian itu.

"Hebat!"
"Ramai!"
"Dahsyat"
"Lebih heboh dari acara pernikahan mereka dulu"
"Ini wartawan apa piranha"
"Tega benar kesusahan orang tetap dilahap jadi berita"

Senyum mekar di mulutnya, mirip cirinya setiap mendapatkan pola rumus togel empat angka . Tanda gairah dan ide cemerlang sedang menyusupi isi kepalanya. Bergegas keluar sambil bergowes ria dengan sepeda kesayangannya. 

Dia pacu secepat yang dia bisa kemudian berhenti di Kantor Urusan Agama yang berdampingan mesra dengan Kantor Pengadilan Agama. Dia ambil rokok sambil memantau kesibukan di sana. 

Indahnya melihat rombongan pengantin baru, berfoto bersama keluarga. Masuk mobil, melambaikan tangan ke pengantarnya. Senyum lebar macam pernikahan pangeran inggris saja. Sedang suasana kontras terasa di lain gedung. Wajah tegang, muka dingin tampak di rombongan yang mengantre perceraian.

"Luar Biasa!"
"Ini kantor urusan agama apa urusan nikah.."
"Kantor agama kok ngurus nikah"
"Kantor urusan Nikah  ada tidak ya"
"Ramai benar"
"Seimbang"
"Yinyang"
"Cuma beda suasana saja"

Langkahnya terhenti ketika dia lihat pasangan yang sempat menghebohkan kotanya waktu pernikahan mereka dulu memasuki Kantor Pengadilan agama. Pasangan itu semacam seleb juga di kotanya. Mirip dengan berita di TV tadi cuma bedanya tak ada kerumunan wartawan di sana. Kisah cinta mereka memang sempat menjadi buah bibir. Beda status sosial dan agama, beda suku dan banyak lagi beda lainnya . Benar-benar berlandaskan cinta tetapi akhirnya bisa menikah juga.

Pasangan Harap Anang dan Lady Kris de Mbohlah, Lady Kris seorang juragan pemilik perkebunan tembakau. Konon katanya berkewarganegaraan Zambia. Sedang Harap Anang  wajahnya tak asing lagi karena gambarnya sering terpampang di penjuru kota setiap ada pencalonan walikota. Tak pernah jadi tapi tak pernah meyerah. Selalu mencoba. Itulah Harap Anang. Mungkin itu juga rahasianya yang membuat dirinya yang dulu cuma pembantu bisa mendapatkan juragannya, Lady Kris.

Berita yang beredar, mereka yang dulu penuh perbedaan kini makin banyak kesamaan. Si Harap Anang akhir-akhir ini menjadi terkenal kedermawanannya di lokalisasi sedang Lady Kris konon ikutan dermawan juga membuka Yayasan Penyandang Dana kepada para mahasiswa tampan yang dia bantu kuliahnya dengan balas jasa keringat dan desah. Bertahun tanpa keturunan mungkin penyebab awal persamaan baru mereka itu. Dan hari ini  mereka harus  memasuki babak final di Kantor Pengadilan Agama. teringat fatwanya soal pernikahan.

"Pernikahan adalah perjudian terbesar di dunia. Bahkan bermodalkan cinta yang katanya salah satu hal terhebat di dunia, banyak juga yang berakhir di perceraian pengadilan agama"

Mereka telah resmi bercerai. Benar-benar berlandaskan cinta tetapi akhirnya bisa bercerai juga. Tampak Harap Anang sedikit tersipu, memandang mimpinya mendapatkan pembagian harta dan sorak sorai para pelacur menyambut kedatangannya,berjalan tegak memasuki mercynya,  mudah tertebak bagi logika penjudi itu. Lady Kris tampak menangis, Terduduk di tepi kolam yang isinya sampah dan ikan sapu-sapu.

Penjudi itu tertegun, ikut tersapu juga angannya. Teringat sejarah cintanya yang panjang dan berkali jatuh bangun dulu. Gila juga, pasangan bak dunia dongeng itu akhirnya bercerai. Makin menguatkan fatwanya tentang cinta.

"Cinta hanyalah kegilaan sesaat seperti waktu kita memakai ganja"

Melas juga wajah cantik Lady Kris, mungkin itulah kehebatan kecantikan. Sedih pun tampak tetap indah dipandang mata. Tapi ada satu senyum kecil yang tertangkap di raut lady Kris, seperti kilat begitu cepat lewat kemudian mendung menutupi lagi.

Logika penjudi itu dipaksa berpikir keras. Seringnya bermain judi membuat dia tajam memperhatikan gelagat dan raut muka. tapi dia tak bisa memahami arti kilasan senyum itu. Wanita selalu menjadi misteri besar baginya. Entah senyuman atau tangisan tak pernah bisa diartikannya dengan tepat. Insting berjudinya mati di hadapan wanita. Dia buka lengan bajunya, dia pandangi tato dadu yang menempel di sana.

"Apakah Lady kris pura-pura sedih ataukah benar-benar sedih" 

"Kalau sedih apakah karena kehilangan hartanya, hatinya atau harapannya"

"Apa arti senyum tadi, mencoba tabah kah atau  semakin bahagia bebas bercinta dengan banyak pemuda"

Seperti bola pantul, bermacam pertanyaan makin rata membentur hatinya.

"Wanita selalu misterius, tak bisa ditebak, semacam black hole, semacam segitiga bermuda"

"Hati wanita lebih sulit ditebak dibanding togel atau dadu bermata enam"

"Hati wanita semacam dadu dengan mata tak berbatas"

"Hati Lady Kris.."

Logikanya mati. Semua tak masuk akal baginya kemudian dia hanya mengandalkan instingnya saja. Entah insting lelaki yang selalu suka melindungi atau insting penjudinya.  Penjudi itu kemudian mendekati Lady Kris. Mengulurkan sapu tangan padanya. 

Aku tak bisa menebaknya, bisa jadi lelaki bertato dadu  itu mengulurkan perjudian terbesar dalam hidupnya.

Bisa jadi dia dalam pengaruh ganja atau bisa jadi pengaruh cinta.

Bisa jadi.





Thursday, September 10, 2015

Kepada Dik, (2)

Kepada Dik,

Yang hatinya macam sabana
pada kemarau musim harapnya
hamparan rumput kering dan belukar
digesek angin berkabar langsung terbakar

Aku mulai serius bertanya
rasa macam apa yang kau pinta
Aku mulai serius percaya
wanita tak sesederhana matematika

Mampuslah aku ini
badai disuruh
ninabobokkan bunga

Kalau benci bilang benci
Kalau rindu bilang rindu
Kalau cinta bilang cinta

Apa susahnya...



Friday, April 17, 2015

Jegeg,


Geg,
Kegelapan, tak pernah bisa
padamkan sedih.
Kesunyian, tak pernah bisa
membungkam sesal.

Tak lelahkah pecahi cermin?
Tak bosankah berkacakaca?

Hentikanlah hirup debu kutuk
sari tangis mereka yang kau lukai.
Bacalah kembali mantra suci
kidung pertama lahir ke dunia.
Keluarlah dari kubangan dendam.
Nurani terlampau lama
kau penjarakan.

Hapus gincumu.
Rapatkan kembali pahamu.
Beningkan putih matamu.
Buang riasan palsu di alismu.

Pijaklah lagi pasir tawa
Tarikanlah bahagia
yang tak beralaskan luka.
Bahagia yang sebenarnya.

Bahagia,
seperti senyum
bapak ibumu
ketika sambut
kelahiranmu...
.....................................

Sunday, April 12, 2015

Kutulis untukmu,

Dunia macam apa pula ini...
Peradaban makin melestarikan basabasi...

Di mana nurani...
Di mana harga diri..

Kastaku anjing...
Tapi aku merdeka..
Aku tak punya tuan..
Yang aku miliki hanya Tuhan..

Tuhan yang mengasihi
dua puluh empat jam sehari..

Aku sering dianggap tai..
Dihinakan dan dijauhi..
Hanya karena ikuti nurani..
Tapi aku tak peduli..

Aku tai yang merdeka..
Aku tai yang bahagia..

Kau bisa apa.. 

Hamba uang bisa apa.. 
Hamba pujian bisa apa.. 
Hamba kedudukan bisa apa.. 
Hamba dunia bisa apa coba...

Kutulis untukmu,
Yang terpenjara di antara paha selingkuhanmu..
Ayo pulang,
Kita punya janji yang belum dituntaskan..

Sunday, April 5, 2015

Kepada Dik,



Kau minta padaku,
tulislah puisi seperti Sapardi.
Mampuslah aku ini,
Badai disuruh ninabobokkan bunga.

Aku usaha tulis juga..
Walau kasar tapi sarat doa..

Untukmu saja..

Untuk yang bening matanya
sering disembunyikan di balik tangis.

Angin April bawakan hujan
Kurang apa coba?

Basuhlah luka..
Terbitkanlah tawa..

Menari..
menarilah lagi..

Sampai hatimu,
pulang ke asalnya lagi..

Kau minta padaku,
tulislah puisi seperti Sapardi.
Mampuslah aku ini,
Badai disuruh ninabobokkan bunga.

(Kepada dik, Yang usia kandungannya sudah tujuh bulan. Semoga semuanya dilancarkan..  )
.