Translate

Tuesday, March 17, 2015

Wajar


Wajar kalau lucu
Namanya juga Denok.
 
Wajar kalau anggun
Namanya juga Puteri.

Wajar kalau pemalu
Namanya juga Dara.

Wajar kalau genit
Namanya juga Gadis.

Wajar kalau menawan
Namanya juga Perawan.

Wajar kalau galak
Namanya juga Nona.

Wajar kalau cerewet
Namanya juga Nyonya.

Wajar kalau binal
Namanya juga Betina.

Wajar kalau sundal
Namanya juga PSK.

Wajar kalau selingkuh
Namanya juga Gongli.

Wajar kalau setia
Namanya juga Istri.

Wajar kalau penyabar
Namanya juga Ibu.

Wajar kalau pengasih
Namanya juga Mama.

Wajar kalau penyayang
Namanya juga Bunda.

Wajar kalau pendoa
Namanya juga Nenek.

Wajar kalau diberi hati,
Namanya juga Wanita.

(Wajar untuk dicintai
Namanya juga Mala)

(H-9, 17 Maret 2015 Menjelang malam..)

Monday, March 16, 2015

Selepas Hujan



Bulan penuh bundarnya,
malam terbelah dua,
sisa hujan masih terjejak.

Pada persimpangan gang sempit,
rombongan kucing berkejaran,
bagai begal berebut perawan.
gaduh mencakar kelam jalanan.

Suara mereka mirip terompet,
tiupan lepas bibir si kecil.
Tak paham  ada yang sedihnya lengket
nyali bapaknya semakin kerdil.

Hela nafasnya kaku,
hisap lintingan bak cerutu.
Dagangannya tak kunjung laku,
pada langit basah di tahun baru .

Hujan membawa berkah..
Hujan membawa resah..

Pesta kembang api padam
orang terberai lalu lalang
kertas dan sampah kesakitan.

Pada ujung gang sempit,
tepi lokalisasi  tak bernama.
Wanita paruh baya lambaikan nasib,
gincu merah menempeli  batang rokoknya.

Ikuti jalannya jaman,
penuh luka dan tangisan.
Tak dapat satupun pelanggan
sayang bukan karena derasnya iman.

Tatapannya nanar,
semua bagian tubuhnya melar.
Ah, ada pula yang menyempit,
waktu, uang dan penyakit.

Hujan membawa berkah..
Hujan membawa resah...


Dua setengah bulan berlalu,
peristiwa melintas bisu.
Tanah basah paksa aku cerita.

Senja tinggal abunya,
kelelawar menarikan kepak resahnya.
Pertanyaan menghujam di kepala,
dari dia yang kuasai aku punya rasa.

Kemarau 'kan datang,
musim pengembaraan membentang.
Sabana menunggu disapa,
puncak menantang diciumi keningnya.

Langit tuliskan apa?
musim lepas rindu jadikah nyata?
Wanitaku menanti dipeluk,
Perempuanku membayang di ufuk.

Hujan membawa berkah..
Hujan membawa resah..

(16 maret di sore yang dingin. Kopi, rokok dan percakapan batin tanpa jawab...) 

Saturday, March 7, 2015

Aku, Kau dan Ibuk (2)


Kopi, rokok, laptop dan secarik kertas di teras depan rumah. Kabut tebal sore ini dinginnya luar biasa, canda anak-anak kecil yang biasanya bermain di halaman samping rumahku pun ikut membeku. Matahari padam sebelum saatnya, Jarak pandang hanya sekitar 10 meteran saja dari teras rumahku.

Ingin menulis tapi tak ada ide jadilah mencoret ikuti keinginan tangan kiriku. Tangan kanan mengetik di laptop, selesaikan sisa laporan yang menanti untuk dikirim via email. Aku mulai membiasakan diri lagi bekerja dengan dua tangan seperti waktu kecil dulu.
"Kau tak jadi ke Gunung?" Ibuk selalu tahu cara mengagetkanku.

"Tidak buk, cuacanya sedang tidak bersahabat.." Yah, aku sebenarnya berencana mau bermalam menyepi di kaki gunung lagi malam ini tapi apa mau dikata alam tak mengijinkan. 

"Menggambar apa itu?"

"Ndak tau, cuma coret-coret ngawur aja.. sambil melatih tangan kiri lagi, Buk.. "

Ibuk tahu tangan dominanku sebenarnya sebelah kiri tapi waktu kecil pernah jatuh dan tangan kanan yang kuandalkan. Guruku juga melarang aku menggunakan tangan kiriku, Tak sopan, Katanya. Akhirnya tangan kanan yang lebih berperan. Tapi ada sisi baiknya juga, kini aku bisa menggunakan dua tangan.

"Wanita yaaa... "

"Iya buk, yang wajahnya pernah ibuk komentari dulu.."

"Yang cantik tapi terlihat sedih itu.."

Ternyata Ibuk belum lupa dengan wajahmu. Wajah indah yang sampai dini hari membuatku terjaga mencoba mencari jalan membuat kemurungan di hatimu pudar.

"Iya.. Sepertinya tugasku telah selesai buk.. Dia sudah tumbuh sayapnya lagi.. Sudah bisa memilih jalan hidupnya yang bisa bikin senyum di wajahnya kembali.. " 

Aku paksakan tertawa, Ada bermacam perasaan yang menggangguku sore ini. Melihatmu bahagia, aku ikut bahagia. Mungkin aku tak berperan banyak, aku hanya menemanimu mencaci dunia sambil menunggu pintu untuk bahagiamu terbuka.Mungkin kau bahkan tidak menyadari sama sekali akan hadirku di sampingmu. Tapi tak apa juga buatku, aku tak mengharap balasan apapun darimu. Melihatmu bisa kembali tertawa, bahagiaku lebih darimu. Rasaku padamu mungkin juga jauh berlipat lebihnya darimu.

"Kenapa sekarang kau yang menyembunyikan kesedihanmu.." Ibuk tak pernah bisa aku bohongi. Selalu tahu jika ada yang aku sembunyikan.

"Kau suka padanya?"

"Berat untuk melepaskannya?"

Beruntun seperti senapan mesin memberondongku, Ibuk seperti Jaksa yang membaca lampiran perasaanku. 

"Aku tak tahu Buk, Mungkin juga aku lebih dari sekedar mencintainya. Tapi aku tahu diri, aku tak sepadan dengannya. Masa laluku Buk, Masa depanku juga.."

Aku tak mampu menjelaskan pada ibuk bagaimana proses metamorfosis ini padamu. Awalnya tak jelas bentuknya, semakin lama mengenalmu semakin berkuasa kau di benakku. aku antara benci dan cinta padamu. aku benci dengan ketidakmapananku yang membuatku berpikir ulang untuk benar-benar serius padamu. 

"Jangan memvonis dirimu sendiri terlalu awal. Tuhan tak suka orang seperti itu. Optimislah menjalani kehidupan.."

"Aku tahu Buk.. Aku juga sudah berpikir ke depan. Aku jadikan dia motivasiku untuk berjuang lagi di jalan yang aku pilih sekarang. Aku tak akan menyerah segampang itu.."

"Aku akan sukses Buk, Percayalah. Sekarang ada dua wanita yang menyanggaku di hati. Aku lebih kuat dari aku yang kemarin"

"Baguslah.. Ikutilah kata hatimu. Tetaplah dekat dengannya. Nyatakan perasaanmu kalau kau sudah merasa waktunya.."

"Kalau ternyata dia tak suka padaku, Buk?"

"Kau tak rugi apa-apa. Cinta bukan soal kalah menang atau untung rugi, cinta adalah soal memberi tapi kau tak akan kekurangan karenanya. Cinta tetaplah cinta walau tak diungkapkan tapi sebaik-baiknya cinta adalah yang disampaikan agar kau tak ada penyesalan. Kalaupun balasannya tak sesuai harapanmu, terimalah dengan lapang dada. Akan ada balasan yang lebih dari Gusti untukmu..."

Sejuk kata-kata ibuk membangkitkanku. Tangan kiriku semakin riang menari menyelesaikan goresanku. Aku tersenyum sambil mengangguk pelan mengikuti usapan tangan ibuk ke rambutku.

"Kalau kau punya rasa dan berat mengucapkannya, tulislah..."

"Kalau tulisanmu kurang jelas diterimanya, bacakanlah.."

"Kalau dia masih kurang paham juga dalamnya rasamu, menggambarlah.. atau jangan-jangan kau sekarang menggambar karena tulisan dan suaramu belum juga membuatnya memberi jawab padamu.."

Mampus, ibuk mlipir cuma buat mengejekku. Aku hanya bisa tertawa sambil menyalakan lagi rokokku.

"Nderek Gusti aja, nang.. Kalau dia memang jodohmu pasti nanti bisa bersatu.. Kau mapankan dulu hidupmu, mungkin akan ada wanita yang mau diajak susah tapi jangan sampai anak-anakmu nanti ikut diajak susah.. Semangatlah, berjuanglah.. "

Nasihat ibuk sebelum masuk rumah dan wudhu menjalankan sholat maghrib. Tatap mataku kosong melihat hasil akhir gambarku. Wajahmu, masih aku tutupi karena ketidakjelasan perasaanmu padaku. Gambar inilah imajinasiku padamu, gambarmu memainkan bass dalam konser kehidupanmu.

Sudah berapa hari aku tak pernah sholat sama sekali. Adzan sepertinya menggodaku untuk sekali ini aku harus benar-benar meminta kepada Gusti. Aku kadang berpikir aneh, Gusti sudah terlalu sibuk dengan doa-doa bermilyar orang dan aku tak ingin menambah bebanNya dengan doaku. Tapi sekali ini aku harus meminta padaNya. Untuk sesuatu yang benar aku ingini. Kau.. My Fake Plastic Girl.. 

Untuk kali ini aku harus berjuang sebisaku, sekuatku, semampuku.. Jangan sampai ada sesal lagi. Apapun nanti akhirnya, Aku terima..

Aku, kau dan Ibuk (1)

Wednesday, March 4, 2015

Tak Sepadan (Chairil Anwar)


TAK SEPADAN
 

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros


Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka


Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka


Chairil Anwar
Februari 1943


Chairil Anwar, Idola saya. Dalam masa hidupnya yang bisa dibilang cuma sebentar, karyanya abadi. Dibukanya puisi tentang kematian neneknya dan ditutup dengan puisi kematian renungan untuknya yg menjelang ajal. Link tadi tribut buat Chairil Anwar dan Netral.   Netral, terutama lagunya yang berjudul Hujan di hatiku. Ada di playlist abadi saya juga. Menemani beribu kali kesepian dan pengembaraan.

Tak sepadan, Puisi ini jujur sering jadi pengingat saya waktu dekat dengan wanita. Apalagi mereka merespon positif.  Sadar keterbatasan  dan "kegilaan" saya pasti akan menyengsarakan mereka kalau berjalan bersama. Sadar juga hampir tak ada wanita yang akan kuat menjalani kehidupan yang saya idamkan. Palingan mereka menyerah di tengah jalan dan saya gagal move on karena ketergantungan pada hatinya. Semacam dikutuk Eros, hati mereka sudah tertutup lelaki lain sedang saya merangkaki kenangan saja yang dingin dan pintunya sudah tertutup saat saya rindu memasukinya. Akhirnya mereka baik-baik saja sedang saya terpanggang tinggal rangka. :))

Saya tak begitu peduli akan harta dan tahta, bisa dibilang saya tidak peduli akan standar dunia. Yang saya pedulikan cuma hidup dalam jalan kebebasan dan bisa hidup bahagia tanpa menyusahkan orang lain. Mungkin kalau saja saya tidak memikirkan Ibuk, maka bisa dipastikan yang akan saya tempuh seperti jalan Umbu Landu Paranggi. Berkelana sambil menulis apa saja, menggelandang. Atau bisa jadi lebih parah lagi seperti Alexander Supertramp di film "Into The Wild" Jujur kecil mimpi saya mirip dia, membuang dunia dan menyepi ke alam bebas.

 Thx banget buat yang mau baca, syukur-syukur dengerin youtubenya.

Sunday, February 22, 2015

Ini ranjang,

Ini ranjang,
Tempat berdoa,
Tempat berbuat dosa juga..

Ada air mata untuk Sang Maha,
Ada sisa binalnya si Lala..

Ini ranjang,
Tabahnya luar biasa,
Muaknya tak terkira..

Kadang buat berkeluh kesah,
Tak jarang untuk beradu desah..

Ini ranjang,
Kemarin pagi ikut tertawa,
Kemarin pagi ikut bahagia..

Untuk pertama kali,
Setelah ribuan hari,
Aku benar berseri..

Aku beri hati,
Pada seorang lagi,
Kali ini pasti!

Dan aku tak peduli,
Terlanjur inginnya nurani,
Tak juga minta balasnya nanti..

Ini ranjang,
Paling mengerti aku ini siapa,
Tak pernah dan tak perlu bersandiwara..

Ini ranjang, (Ini hati juga..)
Suka memberi, pantang meminta..