Translate

Tuesday, February 21, 2017

Naskah Drama untuk Nei

(Untuk Si Nei yang baik,
Yang manis banget kalau lagi senyum,
Kek anakan kucing.. Nggemesin, Ngangenin!)

Malam ini kita mainkan drama saja, Nei.
Hanya ada dua pemeran, Kau dan Aku.

Di kisah itu tidak ada percakapan
Hanya ada adegan-adegan saja

Kau pakailah jubah puteri
Dan aku akan memerankan
pangeran.... 

Ah, jangan! Pangeran itu harus tampan
Harus baik hati juga, membosankan
Aku pakai jubah pelayan yang
paling setia saja.

Pelayan yang setiap malam
merapikan tempat tidurmu
Membawakan air hangat
dan membasuh kakimu
sebelum tidur

Pelayan yang tak pernah berani
menatap wajahmu
Pelayan yang hanya mampu
bercakap dengan jari-jari kakimu
Pelayan yang begitu bahagia
bila melihat bayanganmu
jatuh di air cucian kakimu

Pelayan yang tak pernah tahu
apa sebenarnya yang dirasakannya padamu

Pelayan yang dalam hatinya
selalu membisikan kalimat yang sama
kepada jari-jari kakimu

Kau sudah melakukan yang terbaik hari ini kan, manisku
Kau sudah melakukan yang terbaik dalam kehidupanmu ini kan, sayangku
Beristirahatlah, kau layak mendapatkannya...

Tiga kalimat yang selalu diucapkannya dalam hati saja

Kemudian dia akan berjalan menunduk
Membalikkan badan dan menghindari tatapanmu
Berjalan cepat keluar dari istana
Memasuki kamarnya di samping kandang kuda

Di dalam kamarnya yang sempit
dia meyalakan lilin kecilnya
mencari pena dan memakai jubah sang penyair

Melanjutkan menulis puisi-puisi rahasianya untukmu
yang dia temukan di bayangan cucian kakimu

Di temaram nyala lilin
angin membuka lembaran kertas
Satu dari beberapa puisi untukmu
terlihat di sana

Yang dia persiapkan lama untukmu
sebagai kado ulang tahunmu
Saat dia tak sengaja
memakai pena sang pecinta

Dia kemudian meniup lilin di kamarnya
sambil mengucapkan selamat ulangtahun untukmu
Membaca puisi itu sekali lagi

Dalam kegelapan
Dalam hati saja

-gp-

Saturday, February 4, 2017

Rinduku Pulang


Rinduku padamu adalah bocah kecil
yang tak pernah mau bersepatu
Dia punya tangan yang mampu membuka
semua pintu
Bila malam tiba, dia selalu memaksa keluar
dari tubuhku


Rinduku sepertinya terlalu menyayangimu
Dia akan mati-matian merajuk
bila aku melarangnya mendatangimu
Begitu kuijinkan, dia akan tertawa riang
Berlari secepatnya melesat ke rumahmu

Kebiasaannya sambil menunggumu tidur
adalah bermain dengan ikan kesayanganmu
sambil mencuci kaki mungilnya
di kolam kecil taman merenungmu
Kemudian setelah banyak lampumu padam
Dengan jari kaki kecilnya
Dia akan berjalan menjinjit
Dengan hati-hati sekali membuka
pintu kamarmu

Kesukaannya adalah duduk
di tepian ranjangmu
Menjagamu semalaman
Membetulkan letak selimutmu
Mengusir semua binatang malam
yang coba mengganggu tidurmu
Memandang wajah manismu sepuasnya
sambil bercerita tentang hari-harinya
merindukanmu

Tapi kalau keluar usilnya
Dia akan mengacak-acak rambutmu
Begitu kau terbangun
dia akan secepatnya sembunyi
sambil menutupi mulutnya
Menahan tawa kecilnya kepadamu

Aku kadang terjaga sampai dini hari
hanya untuk menunggu kepulangannya
Aku kadang memarahinya kalau dia pulang
dengan lecet sekujur tubuhnya karena terjatuh
atau menggigil basah kuyup kehujanan
Sambil menghanduki dan mengobatinya
marahku pudar ketika mendengar alasannya
Atau kekonyolannya ketika mengerjaimu

Kau tak tahu kan
kadang kau tertawa dalam tidurmu
Itu karena kelakuannya

Kalau aku sampai ketiduran
dia akan marah-marah
Menguncang tubuh, membangunkanku
Memaksaku mendengar ceritanya
ketika bersamamu

Tak jarang dia menangis
Bercerita ketika kau sakit
Ketika kau tak tidur semalaman
Ketika kau terlalu banyak beban pikiran
Dia hanya bisa memperhatikanmu
dari balik pintu kamarmu

Tapi dia kelihatan paling sedih 
Ketika bercerita pengalamannya
Memberanikan diri membuka pintu hatimu
Memasuki ruang-ruang rahasiamu
Membaca lembaran kisahmu
tentang hal-hal yang kau sembunyikan
tentang yang tak kau ingin dunia tahu
Kemudian dia akan memelukmu
Menyeka airmatamu

Kau tak sadar kan
Kadang kau menangis
dalam tidurmu

Yah, rinduku sepertinya
memang terlalu menyayangimu

Sudah beberapa hari ini aku kebingungan
Dia tak pulang juga ke tubuhku
Tapi senja ini dia pulang
dengan wajah dekil dan rambut acak-acakan
Ingin kumarahi tapi dia tiba-tiba memelukku
bercerita tentang hari-harinya mengikutimu
hari-harinya memunguti kata buatmu

Senja ini dia merengek
Parah sekali rengekannya
Dasar bocah kecil kesayangan
Terpaksa aku memenuhi permintaannya
Memasang kata-kata lugunya
yang ingin dia berikan
sebagai kado ulangtahunmu

Walau tak pernah aku ceritakan
mungkin pada akhirnya dia bisa tahu juga
Aku cuma bapaknya dan dia punya ibu
Ibu yang telah melahirkannya
yang selalu dia rindukan

Ternyata rinduku memang benar-benar
terlalu menyayangimu

Kau tahu bagaimana sekarang
Cara dia minta ijin padaku
ketika ingin mendatangimu
Dia menyebutnya
dengan kata
"Pulang"



-gp-

Sunday, October 23, 2016

Parto Kelir, Mbak Yun dan Problemnya (Dalan Anyar)


Aku terbangun dari tidur siangku gara-gara pertengkaran hebat Parto Kelir yang lagi istirahat siang pulang ke rumahnya. Mbak Yun terlihat ganas tapi cantik seperti biasanya, membentak dan menuding ke wajah suaminya itu. TKP-nya di halaman rumahku.  Si Billy, anaknya Parto Kelir dan Mbak Yun yang baru kelas tiga SD dengan ciri khas  rambut kliwir mburi, malah nyantai banget. Bersama teman-temannya yang pulang cepat dari sekolah gara-gara gurunya mau demo minta kejelasan nasibnya sebagai guru wiyata yang terlunta-lunta, asyik nonton dan nyorakin nambah semangat yang lagi bertengkar. Mereka pikir ini mungkin semacam sinetron yang sering mereka tonton. Ini mungkin sisi baiknya tontonan televisi jaman sekarang. Mereka terbiasa melihat pertengkaran. Sayangnya sekarang ini di depan rumahku tidak ada KPI yang biasanya main sensor.

Parto Kelir cuma pakai kolor biru dengan perut yang membuncit kebanyakan ciu. Kumisnya terlihat semakin menebal mirip kumis polisi india berlawanan dengan rambut di kepalanya

Monday, October 17, 2016

Mau tak Mau (Mengingat Riko)


Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kematian
Tentang pemakamannya di senja yang suram
Bertanya-tanya, senja semacam inikah
yang membuat seorang Subagio Sastrowardoyo
begitu patah hati, begitu menghindarinya.

Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kepedihan
Mengapa tak aku atau kaumku saja yang pergi lebih dulu
Yang sudah begitu sinis berhadapan dengan dunia
Yang sudah terlalu banyak kehilangan gairah pada kehidupan
Begitu lelah, begitu merindukan pertemuan dengan Tuhan.


Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kesakitan
Kurus kering di kursi rodanya, nyeri menjalar dari kanker di kaki
yang sudah tinggal kulit dan tulang dimakan keadaan
Tapi harapannya begitu tegak biar bisa kembali menapak
Begitu riang, begitu penuh keyakinan

Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat ketabahan
Senyum terakhirnya begitu menguatkan
Sempurnalah sudah semua perjalanan
Riko temukan bait terakhir seperti  Rendra
Tulisan terakhirnya begitu mendewasakan
"Aku Cinta Kau, Tuhan ..."


Selamat malam lagi, Riko
Apa kabar? Kita ketemu lagi di doa untukmu ya...
Berlarilah lagi di taman lapang Tuhan yang begitu kau cintai
(Riko, dalam kenangan. Teman, Saudara, adik, dan sahabat kami tercinta.. #BFF)




Sunday, September 25, 2016

Sex Toy Dream (Aku Tahu)

Entah sudah berapa ratus malam yang kita lalui bersama, aku tak sanggup menghitungnya. Nasib kita hampir sama, cuma kau adalah manusia sedang aku hanyalah alat bantumu. Kita sama-sama simpanan. Kau adalah wanita simpanan sedang aku adalah simpananmu yang selalu kau sembunyikan rapi di lemari pakaianmu.

Cukup satu malam saja aku sudah bisa membaca semua dukamu, kesepianmu atau pun rindumu pada cinta mudamu. Bagaimana kabarnya foto lelaki yang selalu kau sebut cinta sejatimu itu? Kadang aku cemburu padanya, begitu dalamnya rasamu padanya hingga hanya dia saja yang selalu muncul dalam fantasimu saat kau memakaiku.

Ingin rasanya aku berubah menjadi dia, bisa membelaimu, mengucapkan kata cinta sepuasku atau menyeka airmatamu yang selalu hadir sebelum tidur lelahmu. Atau sekali-kali ingin juga  membacakan puisi dari buku yang selalu berdampingan denganku di tumpukan paling bawah kumpulan celana dalammu. Buku yang selalu