Translate

Friday, January 23, 2015

Aku, Kau dan Tuhan

"Kau seperti bapakmu.. Setiap ada masalah selalu berdiam diri di teras sambil merokok dan minum kopi.." Ibuk mengejutkanku pukul tiga dini hari ini. Aku masih termangu merenungkan kata - kata terakhirmu tadi.

 "Ada masalah apa? Cerita sama ibuk.."

Seperti biasa ibuk selalu bertanya yang sama padahal sudah tahu  akan menjawab seperti biasanya pula. Tak ingin ibuk terbebani masalahku sendiri.

"Tidak ada apa-apa  kok buk.."
jawabku seperti biasanya sambil tersenyum memenangkannya. 

"Foto siapa itu? Pacarmu?" 

"Bukan.. Cuma teman.. "

 "Cantik tapi kok sedih gitu.."
komentar ibuk sama seperti pandanganku setiap melihat fotomu.


Cepat - cepat  aku menutup browser. Menghindari komen susulan dari ibuk.

 "Ibuk tahajud dulu..jangan terlalu banyak kopi! Ingat maagmu.." 

Aku cuma mengangguk sambil menyalakan rokok, menghela nafas panjang. memandang kegelapan malam.

 Ibuk pernah bilang lelaki itu terlihat gagahnya kalo sedang ada masalah dan berpikir keras memecahkannya.

"Garis wajahnya jadi jelas.." Pendapat ibuk soal itu. Salah satu sisi dari bapak yang selalui ibuk kagumi diam-diam dari dulu.

"kalau dengan ibuk tidak bisa cerita maka pada Tuhan saja ceritanya.." Pesan ibuk yang selalu aku ingat.

 "Tuhan, saat memikirkan masalah apakah Kau juga minum kopi dan merokok seperti aku dini hari ini.." Pertanyaan konyol dalam hati yang sering muncul saat sendiri.

"Kalau kau diberi kekuatan super, apa yg kau pilih?" Pertanyaan ibuk saat masa kecil dulu waktu nonton superman

Lama tidak bisa menjawab cuma tertawa saja padahal aku benar-benar merenungkannya. Aku kagum pada Superman dan superhero lainnya tapi tidak ingin kekuatan seperti itu. Kemudian Tibalah pada saat kakek meninggal dan ibuk menangis. Aku juga menangis. Melihat ibuk menangis perihnya berlipat di hati.  Ku peluk ibuk dan mencium keningnya. 

"Aku ingin kekuatan bisa menyerap kesedihan orang-orang yang aku sayangi, Buk!" jawaban pertanyaan dulu. 

Aku benar-benar tak paham wanita, bahkan pada ibuku sendiri. Mendengar kata-kataku malah tangisnya makin menjadi, Hanya peluknya saja yang jelas makin erat di badan kecilku dulu.


Nama.. Dalam nama mengandung sebuah harapan. Bapak memberi nama padaku dengan harapan agar nanti menjadi orang yang berguna. Beliau sandangkan pula purnama.Dengan harapan bisa indah menerangi kegelapan hati orang-orang sekitarnya. 

Dari kecil aku tidak begitu tertarik dengan harta dan tahta. Bapak cuma minta tetap selalu menjadi diri sendiri, hidup dalam jalan tanpa penyesalan. Berkelahi pun tak apa asal jelas alasannya. Kalau salah wajib minta maap dan kalau benar perjuangkan terus apapun dan siapapun musuhnya

Bapak dan ibuk seperti yin yang. Saling menyeimbangkan dalam mendidikku Keras dan lembut, jantan tapi berlandaskan kasih sayang.

Ibuk, entah apa aku bisa mengangkat topeng kesedihan dari wanita di foto tadi. Menjadi penerang juga. Jalanku pun terkadang gelap buk, sering salah jalan dan mati-matian menemukan jalan pulang.

Andai kekuatan super impian masa kecil dulu bisa aku dapatkan.. Mungkin setelah bangun tidur nanti dia bisa tersenyum lepas, senyum yang harusnya menjadi jodoh dari wajah cantiknya.

Aku tinggal mencium keningnya lalu segala resah dan sedihnya bisa aku pindah ke diriku. 

Dia terlihat seperti bidadari yang retak sayapnya

Digenggam tangan penyesalan dari benaknya sendiri

Korban dari sebuah rasa bernama cinta

Tak mampu terbang terikat hati 

Merangkak menjilati jejak tangisnya


Apakah kau juga ada di Twitter malam ini, Tuhan?

Andai kau beri kekuatan impian masa kecil ini. 
Andai sesederhana itu,
Aku tinggal mengecup keningnya dan dia bisa terbang bebas lagi.. 
Andai.. Yah.. Andai..

Tuhan, aku, rokok dan kopi
Menggila lagi
You look so tired and unhappy
Silent
No surprises


(Ada yang bilang sesungguhnya semakin kedepan kita tanpa sadar hanya mencoba mencoba mewujudkan mimpi masa kecil dulu. Tapi mimpiku mungkin terlalu tinggi... )

Thursday, January 22, 2015

Malam Duel Puisi (00:00)

Dentang benturan besi itu pecahkan hening di rebahnya benak Jerry. Lonceng berbunyi dua kali.  Dia kirim DM terakhir untuk seseorang.

"Tidurlah yang nyenyak, Sampaikan salamku untuk semua yang kau temui nanti di mimpimu.."

Dia matikan HP-nya. Mencoba menutup mata. Dia harus bangun jam lima seperti biasanya. Anna, Wanita yang menemaninya 3 bulan ini. Temannya di twitter yang secara tak sengaja berkenalan saling meng-RT Twit mereka tentang puisi saling berduel puisi mengis malam - malam sepi.

Anna, Membalas Dm dari Jerry sambil terbaring di ranjangnya yang serba putih. Warna kesukaannya. Warna impiannya ; Ranjang Pengantin. Anna mematikan HP -nya juga. Suara langkah kaki yang mendekati kamarnya memaksanya untuk tertidur.

"Jangan lupa janji kita besok malam.. #DuelPuisi .. seperti biasa.."
 
Jerry lelaki yang aneh bagi Anna, puisinya selalu tentang protes. Bahkan Tuhan juga dia protes. Tapi selalu bisa membuatnya tertawa. Dm pertama Jerry padanya minta diajarin puisi, dia mengaku tak paham sama sekali tentang puisi, Hanya mencoret - coret kata saja yang dia bisa. Anna pun menganjurkan untuk belajar kepada Admin komunitas puisi tapi Jerry menolak.

"Kalau harus belajar aku memilih belajar pada wanita, dan hatiku berkata kamulah yang harus mengajarkannya.. "

"Tetaplah menulis seperti sekarang Jerry... Aku suka puisimu. Apa adanya.."

Balasan pertama Anna kepada Jerry. Malam pertama merka bertukar kata dan isi hati lewat Dm. Malam yang menautkan dua hati dan berlanjut s menjadi malam seribu puisi. Mereka saling berduel tentang cinta dan mimpi.

"@Sang_Jerry Apakah mimpiku masih bisa lagi kau wujudkan malam ini, Jerry? #DuelPuisi @Bait_Puisi "

"@nnaMaria Senja sudah kau genggam, hatiku sudah kau pegang. Apalagi yang kau cari, sayang? #DuelPuisi @Bait_Puisi " 

"@Sang_Jerry Seperti kata penyair besar itu, Jerry. Aku ingin hidup seribu tahun lagi. Dalam malam berhias puisi. #DuelPuisi @Bait_Puisi"

"@nnaMaria Seribu tahun lagi terlalu tamak, sayang. tapi yakinlah puisimu dan dirimu abadi di hatiku ini #DuelPuisi @Bait_Puisi"
  


Lama tak ada balasan dari Anna. Jerry mulai bertanya-tanya. Tak seperti malam-malam duel puisi sebelumnya. Jerry belum pernah menang melawan Anna. Masuk Sebuah DM ke Twitter Jerry. Sambil menyalakan kembali puntung rokoknya yang tinggal seperempat batang Jerry membacanya..

"Jerry, aku kehabisan kata malam ini.."

"Ah, Anna tak seperti biasanya. Sudah mengantukkah kau?"

"Belum.. Jerry aku punya satu permintaan. Sudah 3 bulan kita kenal, aku belum pernah melihat fotomu selain PPmu.."

"Apalah arti sebuah foto, Anna.. Kau juga belum pernah berganti foto di PPmu kan? :)) "

"Apakah kalau aku mengirimkan foto lebih dahulu, kau akan mengirimkan foto juga, Jerry?"

"Bagaimana yaa... Bolehlah untuk menghormati hubungan kita selama ini.." Jerry menyanggupi permintaan Anna.



Muncul sebuah link dan Jerry membukanya. Foto seorang wanita muda cantik yang berkerudung putih. Dengan latar belakang serba putih. Mata hitam menyala yang mempesona Jerry.

"Kau cantik Anna! Kenapa kau sembunyikan wajah cantikmu kepada dunia dan hanya memasang capung ungu di PPmu? "

"Hehehe.. Kau pandai memuji Jerry! Mana fotomu?"

"Sebentar Anna, Beri aku waktu.. Biarkan aku puas memandang fotomu.."

"Mana fotomu...Jerry?"

"Kau muslim Anna? Kau terlihat pucat di foto.."

"Bukaaan, Aku penganut Budha Tapi aku suka memakai kerudung.. Iya aku sedang sakit Jer.."

 "Apakah kau punya pacar, Anna?"

"Sudah putus lama.. Jangan mengalihkan perhatian, Jerry! :| "

"Iyaaa... Bentar... sabarlah.. Matamu indah Anna!!!" 

"Kau punya pacar, Jer?"

"Tidak.. Sudah 2 tahunan aku tak percaya wanita.. =)) "


 Semenit berlalu.. Lima menit tanpa balasan dari Jerry. Anna mulai tidak sabar menunggu balasan Jerry.

"Jerry!!!!!!"

"Jerry..............!!!!!!"

"Jerry...................................... -_____-"


Sebuah link muncul di Dm Anna. Terlihat wajah seorang lelaki di kegelapan malam memegang rokoknya. Berkumis dan berjenggot tipis. Memakai baju hitam dan dengan latar belakang kegelapan. Kontras dengan warna di foto Anna.

"Jerry... kau gagah! Matamu tajam juga..."

"Ah, kau pandai memuji juga Anna.. :)) Sudah aku tepati kan janjiku.."

"Untuk lelaki sepertimu pasti banyak wanita yang menyukaimu kan Jer.. "

"Tidak juga Anna.. Untuk dua tahun ini hanya baru kau yang memujiku.. "

"Jer.. kau punya hobi apa? Sepertinya belum pernah bercerita padaku.."



Jerry mengalihkan pandangannya sebentar ke langit malam. Membayangkan hal-hal yang paling disukainya. Hal-hal yang pernah dijalaninya sebelum dua tahun ini.

"Naik gunung, Anna! Berlarian telanjang bebas di padang sabana.. Seperti manusia purba!"

"Apakah padang sabana indah seperti di televisi, Jer?"

"Lebih indah dari di televisi.. Mereka tak akan pernah bisa merekam keindahannya!"

"Suatu saat kau harus melihatnya langsung, Anna! Jangan lupa Lembah edelweis"

"Mungkin seperti itulah surga, Anna!"

"Langit malamnya juga sangat indah.. Beribu bintang terlihat seperti permata.."

"Sunrise dan sunset di puncak! Kau harus melihatnya Anna... Indah!!!"



Jerry berapi-api menceritakan hobinya. Mengenang perjalanan ke puluhan gunung yang dia lakukan sejak masih SMP.
"Apakah benar-benar seindah itu, Jer..."

"Memang kau belum pernah naik gunung?"

"Belum pernah, Jerry.. Aku sejak kecil sakit-sakitan.."

"Memang sakit apa Ann?"

"Leukimia.. "

"Kenapa kau baru cerita sekarang, Anna?"

"Kau menyesal tau aku seorang pesakitan, Jerr?"

"Bukaaan!!! Aku akan melarangmu online malam-malam. Kasihan tubuhmu.."

"Kau seperti ibuku saja, Jer.. Bawel!!! '--____-- "

"Hahaha.. Bukan bermaksud bawel, Anna!!! Aku sayang padamu.."

"Jer, Besok pagi aku operasi. Maukah kau menjengukku.."

"Emang di Rumah Sakit mana Anna?"

"Rumah Sakit Harapan Kita.."

"Ruang apa?"

"Kau bertanyalah pada pegawai Rumah Sakit, Mereka pasti kenal aku semua?"

"Kau seleb?"

"Bukan... Karena aku terlalu sering disana sejak kecil! Jadi banyak yang kenal.. :))"

"Damn.. =)) Akan aku usahakan Anna.. Tapi tak bisa berjanji.."


Berat Anna membaca balasan Jerry tapi dia tahu diri. Mungkin Jerry sibuk dengan kerjanya. Selama kenal dengan Jerry belum pernah mereka berhubungan siang hari.

"Doakan aku saja Jer.. tak perlu memaksakan diri.."

"Doaku selalu untukmu Anna.. Untuk kebaikanmu.."

"Aku tidur dulu ya, Jer.. Bisa-bisa aku diomeli Ibuk dan suster belum tidur selarut ini.."

"Iya, Anna.. Tidurlah yang nyenyak..Semoga sukses operasinya.."

"Oh ya Jer, Mungkin besok malam aku tidak bisa menemanimu berpuisi.."

"Tidak apa-apa Anna.. Utamakanlah kesehatanmu.. Doaku untukmu! Semangat!"

"Janji padaku satu hal ya Jerry.. tetaplah berpuisi.."

"Aku berjanji Ann... sampai ujung detik kematianku pun akan tetap berpuisi.. Untukmu.."

"Selamat malam Jerry.."

"Malam yang indah untukmu, Anna! Doaku selalu!"


Pintu kamar Anna dibuka. Senyum ramah dari Ibu Anna menyapa. 

"Ann, Tidurlah.. Besok kau kan harus operasi. Fisikmu harus kau jaga.."

"Sebentar ibuk, 15 menit lagi yaa... Aku ingin menulis sebuah surat.."

"Janji cuma 15 menit?"

"Iya Buk, Nanti kalau sudah selesai aku akan tidur.. "

"Oh ya buk, nanti aku masukkan surat ini di amplop. Tolong besok ibu kasih ke Orang yg bernama Jerry kalo kesini yaaa.." Anna memohon kepada ibunya..

"Pacar kamu?" Ibunya memandang heran

"Rahasia!!!" Anna menjulurkan lidah seperti anak balita.

"Ok..ok... Rahasiaaaa.." Anna mendapat belaian dan kecupan sebagai hadiah di rambutnya. Tanda seorang ibu yang ikut berbahagia dan akhirnya mengerti kenapa akhir-akhir ini Anna terlihat ceria. 


Jerry terdiam malam itu. Berpikir mendoakan Anna harus dengan cara apa. Dia memang tidak punya agama tapi percaya Tuhan itu ada. Lama kemudian bersujud dalam kegelapan, larut dalam doa yang untuk pertamakalinya dia mohonkan.

"Dear, God.. Tuhan..Allah.. Buddha... dan semua Tuhan serta dewa yang ada di langit dan dunia. Aku mohonkan berilah seribu tahun lagi usia dan kesehatan untuk Anna. Wanita yang mungkin akan jadi kenangan terindahku. Kalau nyawaku bisa ditukar maka berikanlah untuknya. Itu sudah.."

"Bang mamad, Kesinilah sebentar.."

"Ada apa Jer? Kau punya keinginan apa?"

"Bang, bisa aku minta tolong padamu.. Carikan aku kertas dan pena. Aku ingin menulis sebuah surat.."

"Siap Jer... cuma itu saja.."

"Iya.. Itu saja untuk malam ini.."

Tak lama kemudian bang mamad membawakan kertas dan pena. Jerry berterimaksih lalu mulai menulis. Selesai menulis dia memanggil lagi.

"Bang Mad, Aku boleh minta tolong satu hal saja.."

"Apa Jer?"

"Kirimkanlah surat ini besok ke RS Harapan Kita. Berikan pada seseorang bernama Anna Maria.. Belilah juga bunga untuknya.."

"Untuk siapa ini, Jer? Kau belum pernah bercerita tentang wanita padaku.. Apakah pacarmu?"

"Rahasia..bang... Rahasiaaa!!! Ini lebih rahasia dari rahasia negara!!! Hahaha" Jerry tertawa lebar

"Okelah Jer... Apapun untukmu.."

"Abang butuh dana transport berapa untuk ngirim surat?"

"Tak usah Jer.. Kau berkali-kali membantuku masalah dana."

"Istriku sakit, kau yang bayar biaya Rumah sakitnya. Anakku mau kuliah, kau juga yang membiayainya..Kali ini gratis, Jer!"

"Ok bang Mad, Makasih..."

"Kau tak ingin yang lain Jer? Masakan istriku mau? buat sarapan besok?"

"Boleh lah Bang... Makasih banget.. Aku ingin tidur dulu ya bang.. Capek ni badan.."

"Siap Jer... Tidurlah... Abang mau keluar bentar.. Kalau ngirim suratnya agak malam tak apa? Besok abang ada kerjaan sampai malam. Kau tau sendiri kan besok ada apa.."

"Santai aja bang!!! Pokoknya yang penting sampai.. Jangan lupa bunganya..Mawar putih.. dia suka warna putih!"

"Ok Jer..Abang pasti nganterin tu surat sampai tujuan.. Abang Janji!"

Pukul lima pagi, Jerry terbangun seperti biasa. Memulai aktifitasnya, meditasi. Tapi yang terbayang malah wajah Anna. Kemudian dia berdoa lagi seperti doanya semalam.

Di lain tempat, Anna sudah terbangun juga. Melihat jam di dinding. Menunggu pukul sepuluh tiba. Operasi yang sudah dijadwalkan untuknya. Terbayang di matanya wajah Jerry. Satu-satunya lelaki yang menemani benaknya tiga bulan ini lewat canda dan puisinya.

"Ibuk, Jangan lupa surat ini nanti yaaa.. Untuk Jerry..." 

"Iyaa.. Ann.. ibu pasti sampaikan..." Lembut Ibunya memeluk Anna, Membesarkan hatinya yang akan menjalani operasi.


Jarum jam berputar cepat di tangan Bang Mamad. Pukul 23:00. Hari ini memang ada acara khusus di tempat kerjanya hingga baru sempat menepati janjinya malam ini pada Jerry. Sambil memegang bingkisan bunga pesanan Jerry dan surat di saku jaketnya dia sampai ke Rumah Sakit Harapan Kita. Mulai bertanya kepada resepsionis dan menuju ruangan tempat Anna Maria berada. 

Anna maria terbaring dalam keadaan koma setelah operasinya, Ibunya menemani sambil memegang Surat untuk Jerry. Bang mamad mengetuk pintu pelan dan mencoba membukanya. 

"Maaf Bu, Apa benar ini ruangan Anna Maria?"

"Iya, Bapak siapa ya?"

"Saya temannya Jerry, bu.. Diminta mengantarkan surat ini.."

"Oh, teman Jerry yaa.. Ibu juga punya titipan Surat dari Anna untuk Nak Jerry.."

Berdua mereka bertukar surat. Bang Mamad memberikan bunga mawar putih juga kepada ibu Anna.

"Semoga putrinya cepat sembuh ya bu.."

"Iya nak, terimakasih.."

"Saya langsung pamit bu.. Mau ngasih surat ini untuk Jerry.."

"Iya, Terimakasih dan salam dari saya dan Anna untuk nak Jerry.."

"Iya bu... Saya pamit dulu.."

Bang Mamad memandang jam, berlari secepatnya keluar dari rumah sakit dan menyalakan sepeda motornya. Mengejar waktu mencoba menemui Jerry. Sedangkan ibu Anna memberanikan diri membuka surat dari Jerry dan membacakannya kepada Anna Maria.

"Dear Anna Maria,
Doaku selalu untukmu dan kesehatanmu.. Ann, Terimakasih untuk semua waktu kita 3 bulanan ini.. Aku menghitungnya dan melingkarinya di kalender tepat 100 hari malam ini.. 

Ann, Aku sudah lama tidak merasakan cinta. Aku mungkin lupa apa yang kurasakan padamu itu adalah cinta. Lewat surat ini aku memberanikan diri. Puisiku padamu bukan cuma puisi saja. Itu semua adalah perwakilan dari rasaku yang sesungguhnya.

Saat aku menyebutmu "Sayang" maka aku benar-benar sayang padamu. Saat aku menulis "cinta" maka aku benar-benar cinta padamu. Tapi aku menahan diri. Aku sadar diri ada satu alasan aku tidak bisa menyatakan cinta itu padamu secara langsung.

Puisimu, Ann.. Menyelamatkanku dari semua hal yang membelengguku. 100 Hari ini benar-benar berarti indah.  hari yang bisa aku bilang paling berarti buatku. Aku juga ingin hidup seribu tahun lagi sepertimu.

Bersabarlah, Ann. Ada satu bingkisan lagi yang akan aku kirimkan padamu. Mungkin bisa menyelamatkanmu. Aku juga akan membacakan puisiku untukku malam ini, Ann. Khusus untukmu..

Malam ini aku akan membacakannya sambil memakai baju warna kesayanganmu. Putih! Suci sepertimu. Akan ada yang jadi penontonnya Ann.. Panggungnya juga sudah selesai dibuat. Seandainya kau bisa melihatnya langsung.

Dari hati yang terdalam semoga kau cepat sembuh dan bisa membacakan puisi sampai seribu tahun lagi. "Aku cinta kamu..Kamu harus tahu itu.."

Jerry       "

Air mata Anna mengalir dalam komanya. Ibunya juga meneteskan ait mata membacanya. 

"Bukan Rahasia lagi Anna... Ibu sudah tau sekarang.. Lelaki itu mencintaimu... Kau juga mencintainya kan.. Anna.." Air mata Anna terus mengalir dan diseka oleh ibunya.
 

Bang Mamad kesetanan menjalankan motornya. Menerobos gerbang penjagaan. Berlari sekencangnya mencoba mencari Jerry. Beberapa orang menghadangnya tapi bang mamad berhasil meyakinkan dan menerobosnya. 

"Kau harus baca ini Jerry!!! Surat untukmu dari Anna!!!" Bang mamad berteriak diantara keramaian. 

Jerry menengok mendengar kata-kata Bang mamad.. 

"Pak, Acara masih 15 menitan lagi kan. Ijinkan saya membaca surat untuk saya. Sebentar  saja.." Jerry memohon kepada orang yang mendampinginya.

Anggukan setuju padanya, Bang Mamad menyerahkan surat itu kepada Jerry
"Dia sakit parah Jer.. Sekarang sedang koma..Kau harus baca ... Kau harus baca!! " 

Bang mamad menangis memeluk Jerry. Orang yang telah banyak membantunya selama ini. Penyendiri yang hanya mau bicara padanya. Jerry sudah lupa kapan terakhir dia menangis tapi di dekapan Bang mamad bisa luluh juga hatinya apalagi mendengar berita tentang Anna. Pelan dia buka surat dari Anna.

"Dear Jerry,
Semoga kau selalu bisa tertawa seperti biasanya waktu membacanya. Sebelum bertemu denganmu aku sudah benar-benar menyerah menghadapi penyakitku. Leukimia Stadium 4. Mungkin hanya ibuku yang bisa menjadikanku kuat. Orang yang melahirkanku, merawatku, mengantarkanku terapi, berobat ratusan kali dan masih selalu membesarkan hatiku meyakinkan aku bisa sembuh.

Tetapi akhir-akhir ini kau menjadi hal istimewa yang harus kusyukuri Jer, walaupun cuma lewat puisi tapi aku benar-benar bisa bahagia setiap membacanya. Kau alasanku untuk mau hidup seribu tahun lagi, Jerry!

Aku ingin kau bawa ke sabana seperti yang kau ceritakan kemarin. Berlarian bersamamu dan menikmati indah edelweis. Mendengarmu membaca puisi sambil menunggu Sunset atau Sunrise. Hanya bersamamu.. kita berdua..

Aku selalu iri mendengar cerita kawan-kawanku soal jatuh cinta. sejujurnya aku belum pernah punya pacar, Jer. Penyakitku ini membuatku tak mampu untuk berpikir ke arah situ. Bila yang mereka ceritakan tentang jatuh cinta itu begitu indah maka aku menemukannya pada dirimu, Jerry. "Sayangku" ijinkan aku menyebut kata itu lewat surat ini.

Malam bertabur mimpi, malam bertabur puisi.. Malam bersamamu Sayang.. Malam yang mungkin membuatku tak akan pernah menyesal hidup di dunia ini walaupun selalu dihantui sakit setiap hari.

Sayang, Asal kau tahu.. Aku memakai kerudung di foto itu karena rambutku sudah rontok semua. aku tak akan pernah percaya diri menampakkan wajah asliku padamu.

Firasatku mengatakan aku mungkin tak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Operasi nanti hanya bisa menunda saja dengan ketidakpastian. Seperti kata-kata seorang penyair besar itu, Sayang..

"Hidup hanya menunda kekalahan"

Aku berdoa untuk kebaikanmu Sayang, Suatu hari nanti kau pasti bisa menemukan wanita yang istimewa melebihi diriku. Yang bisa membuatmu menulis puisi sampai beribu lembar. Teruslah berpuisi , Sayang.. Seperti kata Sapardi, "Yang fana adalah waktu..Kita Abadi.." Puisimu akan abadi di hatiku. Semoga demikian pula Puisiku di hatimu nanti. kau perlakukan abadi.

Andai aku bisa memelukmu, Sayang.. Mati di dalam pelukanmu... Aku pasti serasa itu surga..
 
Terimakasih untuk kenangan yang telah kau berikan selama ini.. Aku yang mencintaimu tapi tak pernah punya kepercayaan diri menyatakannya padamu.. Selamat tinggal sayang..Teruslah berpuisi!!!

Anna Maria Kamala Sari.. Ingatlah nama lengkapku ini... "


Jerry menetes airmatanya membasahi kertas surat dari Anna. 

"Pak, ini permohonan terakhir saya.. Bisakah saya menemui seseorang malam ini.."
 
"Maap, Waktu sudah ditentukan.. Kau harus melaksanakannya seperti jadwal Jerry!"

"Aku mohon pak, satu kali ini saja.. aku bayar berapapun yang bapak minta..."

"Tidak bisa , Jer.. Maap..."

Jerry ingin memberontak tetapi pasrah tahu diri. Tamu sudah berdatangan dan dia bintang utama malam ini. Jam sudah ditentukan dan dia tak bisa apa-apa lagi.

Jaksa memeriksa untuk terakhir kalinya, meminta borgol yang mengikat tangan Jerry dilepaskan.

"Kau masih punya waktu 3 menit lagi Jerry, Ingin menenangkan diri didampingi Romo atau ada pesan terakhir yang ingin kau sampaikan.. Aku akan mencatatnya.."

"Tolong nanti bawa mayat saya ke Rumah sakit Harapan Kita, Pak Jaksa. Apapun bagian organ tubuh saya ini yang masih bisa berguna buat sesama tolong diambil saja.. Saya rela.. Utamakan kepada seseorang yang bernama Anna Maria Kamala Sari. Pasien disana.. Sumsum tulang belakang saya yang paling dia butukan untuk penyakitnya. Bang Mamad, sipir penjara ini sudah tahu orangnya.."

"Setelah itu apa yang tersisa dari tubuh saya tolong dikremasi dan sebarkan abunya di lautan.. Harta saya yang tersisa baik berupa barang atau uang tolong digunakan untuk keperluan Anna Maria juga. Bila dia menolaknya atau ternyata masih tersisa, Sumbangkan untuk sesama. Semua Ada di pengacara saya.."

"Saya sudah tidak punya keluarga, Jadi tak akan ada yang mempermasalahkannya.. Itu Saja Pak, Pesan terakhir saya.."

"Baik, semua sudah aku catat dan aku rekam. Aku akan berusaha memenuhi semua permintaanmu" 

Komandan regu penembak mendekat ke arah Jerry setelah diberi kode oleh Jaksa. Jerry diarahkan menuju tiang eksekusi. 

"Laksanakan!"

"Laksanakan!"

Berbalas salam dari komandan regu dan Jaksa.

"Saudara Jerry, Apakah ingin memakai penutup mata atau tidak?"

"Tidak usah pak.. Satu permohonan saya.. Ijinkan saya membaca Puisi sebelum anda menembak saya. Saya akan memebrikan Kode setelah selesai.."

"Karena ini adalah hari terakhir anda, Maka akan saya ijinkan..Semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk saudara Jerry di alam lain nanti.."

"Terimakasih pak.."

Jerry berdiri, Tangan dan kakinya diikat di tiang penyangga eksekusi. Regu penembak tinggal menunggu kode dari Jerry dan perintah komandannya.

Jerry menatap langit memandang kegelapan, Bintang tak ada satupun yang menemaninya. Menarik nafas dalam dan membayangkan Anna Maria.

Dua belas pucuk senjata mengarah ke dada
Tapi yang terbayang hanya kau, Anna Maria!

Dua belas ekor serigala dari masa laluku yang celaka
Tapi yang terbayang hanya kau Anna Maria!

 Dua belas denting lonceng malam memecahkan telinga
Tapi yang terbayang hanya kau Anna Maria!

Tak ada sesal, tangis ataupun lara
Bila ada karma, berhentilah di titik ini saja

Dua belas anak tangga menuju jalan ke neraka
Tapi yang terbayang hanya Kau Anna Maria!

Kau tetaplah di dunia
Tetaplah bahagia
Aku akan buatkan tangga
Menuju surga untukmu saja

Anna Maria cintaku.. 
Hidupilah hidupmu..
Selamat jalan Cintaku!!!

Seperti kata penyair kesayanganmu itu
Yang fana adalah waktu..Kita Abadi!

"Laksanakan!!!" Jerry berteriak sekencangnya

Suara tembakan menggema. Bersamaan pula tangis pecah juga di ruangan Anna maria.
Dia meninggal di saat itu juga. Di saat eksekusi mati seorang bandar narkoba bernama Jerry. 

Pagi menjelang, Berita tentang eksekusi itu terpampang di televisi dan koran di halaman depan. Jauh di belakang, di berita tentang kematian terpampang juga wajah Anna Maria. Mereka bisa bersatu juga meski terpisah beberapa halaman di koran.

"Dia orang baik, hanya mungkin salah memilih jalan hidupnya!!!" Bang Mamad bercerita di depan anak dan istrinya. 

"Kalau tidak ada dia, Mungkin ibuk sudah meninggal gara-gara bapak tidak mampu membayar ongkos operasi, kau mungkin juga tidak bisa kuliah Pras.. Berdoalah untuknya.. "

"Dia menolong bapak tanpa alasan, Mendengar cerita bapak tau-tau pengacaranya sudah membawa uang. Bukan uang haram juga katanya. Itu hasil dari dia bermain saham.."

"Tugas terakhir bapak untuk membalas jasanya tinggal menyebar abunya ke lautan.. Semoga dia Tenang di alam sana.."

"Sering berdoalah untuknya.. Dia pahlawan di keluarga kita.."

 



 
 


 

Tuesday, January 20, 2015

Coretan untuk Ibuk, ( Malaekatku.. Alasanku untuk mau tetap hidup.. )

Bila cinta punya mata
Aku ingin tatapannya seperti matamu, Ibuk!

Bila kasih punya sentuhan
Aku ingin tulusnya seperti belaianmu, Ibuk!

Bila sayang punya tangan
Aku ingin genggamannya seperti tanganmu, Ibuk!

Demi rasa cintaku padamu,
Tak berujung, Bagaimana kejinya mereka merobek hatiku
Aku tetap mencintai kaummu, Ibuk!

Demi rasa kasihku padamu,
Tak berbatas, Bagaimana sadisnya mereka mencabik rasaku
Aku tetap mengasihi kaummu, Ibuk!

Demi rasa sayangku padamu,
Tak bertepi, Bagaimana kejamnya mereka mencincang batinku
Aku tetap menyayangi kaummu, Ibuk!

Ibuk, Ibuk, Ibuk...
Sembah sujud, bakti, terimakasih dan doaku..
Selamanya untukmu.. Untuk kaummu..

(Anakmu, yang tak kunjung bisa membahagiakanmu... Bila aku harus terlahir lagi.. semoga tetap dari rahimmu, Ibuk! )

Untuk pelacur tua

Pada selangkangan pelacur tua
Aku lihat doa
Aku lihat air mata
Aku lihat Kau; Tuhan!

Aku bisa apa
Kulemparkan uang ke wajahnya

Pergi
Pergilah
Jangan menangis
Jangan menangis lagi
Setidaknya untuk malam ini

Aku bisa apa
Kulemparkan botol ke langit malam

Doa
Doalah
Kemana saja
Kemana sajalah
Terus doa
Terus doalah
Berdoalah untuk selamanya

Tuesday, January 13, 2015

Kau Tetap Suci! ( Tulisan untuk korban perkosaan )


Ah, Sayang
Sutra terlanjur  jadi benang
Tenanglah tenang!!!
Janin di perutmu tak butuh tangisan
Balut dengan kasih sayang

Walau kita bukan di Nazaret
Walau ini jaman sesudah masehi

Ingin kusebarluaskan berita
Nasibmu serupa perawan suci Maria

Tapi siapa yang akan percaya?
Tapi siapa yang akan peduli?

Ah, Sayang
Usirlah resah di hati
Pergilah pergi!!!
Janin di perutmu titipan Gusti
Peluk dengan sepenuh hati

Walau kita bukan di Nazaret
Walau ini jaman sesudah masehi

Setiap kelahiran itu suci
Tak peduli calon nabi atau calon napi

Apakah benar-benar sudah tidak ada yang percaya?
Apakah benar-benar sudah tidak ada yang peduli?

Ah, sayang
Kau tetap suci!
Kau tetap suci!!
Kau tetap suci!!!
Kau tetap suci!!!!