Translate

Sunday, February 22, 2015

Ini ranjang,

Ini ranjang,
Tempat berdoa,
Tempat berbuat dosa juga..

Ada air mata untuk Sang Maha,
Ada sisa binalnya si Lala..

Ini ranjang,
Tabahnya luar biasa,
Muaknya tak terkira..

Kadang buat berkeluh kesah,
Tak jarang untuk beradu desah..

Ini ranjang,
Kemarin pagi ikut tertawa,
Kemarin pagi ikut bahagia..

Untuk pertama kali,
Setelah ribuan hari,
Aku benar berseri..

Aku beri hati,
Pada seorang lagi,
Kali ini pasti!

Dan aku tak peduli,
Terlanjur inginnya nurani,
Tak juga minta balasnya nanti..

Ini ranjang,
Paling mengerti aku ini siapa,
Tak pernah dan tak perlu bersandiwara..

Ini ranjang, (Ini hati juga..)
Suka memberi, pantang meminta..

Itu saja


Pergi,
Pergilah,
Bawa saja hatiku,
Aku tak terlalu membutuhkannya.

Buang,
Simpan,
Ah, Terserah kau sajalah,
Kupercayakan semua isi dada.

Tapi,
Kumohon,
Bawa juga sakitnya,
Aku ingin sekali lagi bisa tertawa!


Itu saja

Thursday, February 19, 2015

Maaf, Cintaku..


Hujan dari dini hari sampai sore ini,
(sepertinya)
Bersaing denganku,
Sama derasnya,
Tiada lelah dan henti,
Guyurkan bayangmu ke hatiku..

Seharusnya,
Angpau merah ini,
(sejak beberapa waktu yang lalu)
Jadi hakmu.
(Isinya sederhana,)
(Utuh hatiku.)
 
Maafkan aku,
Ketidakberdayaanku,
Kumasukkan lagi,
(Nyeri dan perih)
(Cinta dan rindu)
(Semesta rasaku)
(Untukmu)
Disela rusukku..

(Met Imlek.. Semoga menjadi tahun yg penuh bahagia: buatku, buatmu, buat kita semua.. )

Tuesday, February 17, 2015

El Comandante Mbah Karmo


Hobi lama kalau lagi blank dan jenuh, Jalan-jalan di malam hari sendirian mengikuti inginnya hati. Beberapa malam yang lalu ketemu dengan Mbah Karmo, Seorang Sukarnois sejati tapi entah kenapa malah anti dengan Partai Politik yang ketuanya anak dari idolanya.

"Dia cuma anak biologis saja.. " Mbah Karmo berkeras dengan pendiriannya.

Kabut tebal ngiranya udah ndak ada orang lagi jam dua belasan malam sambil pake jaket gunung jalan-jalan ke pohon beringin tua yang ada mata airnya di tepian kampung dan terkenal angkernya. Ada nyala rokok dan sesosok tubuh bersarung di atas bebatuan. Saya tak asing lagi dengan bayangan itu, bisa dipastikan Mbah Karmo, beberapa kali ndak sengaja ketemu beliau juga waktu JJM  dan dapat dongengan cerita lama.

Ndak percuma malam itu bawa thermos mini andalan n kopi panas di dalamnya. Sebungkus marlboro dan cadangan Samsoe keretek juga sepakat mengamini.  Cerita Mbah Karmo selalu asik, orangnya suka bercanda tapi kalau sama saya berduaan saja pasti hilang akting guyonannya dan jadi obrolan serius. Lebih tepatnya Transfer ilmu dan pengetahuan doi tentang dunia.

"Reneo Jii, sini.. kancani Mbah melekan, begadang.." Mbah Karmo melambaikan tangannya dan tersenyum lepas seperti sebuah kelegaan orang yang ditunggunya udah datang.

Tanpa tunggu lama langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya. Menuangkan kopi dan menawarkan minum bersama. saling tanya kabar dan guyonan nylekit juga ngejek saya yang belum nikah juga sampai hari ini. Asuuu.. :))

"Jii, Dulu ditempat ini Mbah pernah diajak Eyang kakungnya mbah waktu malam sepi seperti ini juga.."
 Eyang kakungnya Mbah Karmo itu semacam legenda disini. Ada yg bilang dia Sufi, manusia setengah dewa dan bermacam julukan lainnya karena kesaktian dan ilmu spiritualnya.

"Bintang berwarna merah yang Eyang kakung perlihatkan dulu malam ini muncul lagi.." Mbah Karmo terdengar mengeluarkan nafas panjang. Seperti menahan beban berat di hatinya.

"Wah, Njenengan guyon Mbah.. Malam kabut tebal gini ndak keliatan satu bintangpun di langit.. Mbah ngawur ki... "

"Ngawur ndassmuuu!!! kamu meremo.. pejamin mata.. ntar mbah liatin bintangnya yang mana.. tenanan ki.. "
Sambil njewer telinga mbah merintah pejamin mata. Kalo udah keluar galaknya seperti ini cuma satu jalan keluarnya.. Dituruti!

Saat mejamin mata, Mbah Karmo mbisikin sebuah doa jawa lama dan menyuruh saya membacanya dalam hati. Setelah itu beliau sentuh kedua mata saya dengan jarinya. 

"Udah, wis..sekarang buka mata.. liat itu apa yang ada di arah barat sana.." 

Ajaib, kabut seperti sirna. Begitu banyak cahaya dalam berbagai warna di kegelapan malam itu. Di bebatuan, pohon beringin dan yang Mbah Karmo bilang ternyata benar juga. Bintang merah yang menyala terlihat di arah barat. Lebih terang dari cahaya lainnya. Ternyata ini yang Beliau lihat setiap harinya di kegelapan malam. Saya hanya bisa takjub, keheranan dan tercengang. Ndomblong kalau saja ndak ditepuk bahunya oleh beliau.

"Sangar mbah, indah!" saya memuji fenomena yang terlihat malam itu. 

"Indah matamuuu!!! Itu bintang merah tanda goro-goro Jiiii..."

"Maksudnya Mbah?"

"Akan ada bencana, seperti di cerita wayang itu.. sudah 2 kali mbah liatnya.. Sebelum pemberontakan G30SPKI dan Lengsernya Mbah Harto dulu.. Medeni.."

"Semoga ndak akan ada apa-apa di negara kita ini Jii.. Bangsa ini sudah terlalu banyak kena bencana.. semoga ndak ditambahi lagi sama Gusti.."

"Amin.. Mbah.. Aamiin.."

"Kamu tau ndak, dulu pertama Mbah liat bintang itu ya seumuran kamu sekarang. Mbah juga cuma bisa amin aminan aja.."

"Andai Bung Karno masih yang mimpin pasti negara ndak jadi sarang penyamun seperti sekarang ini.. Minim seperti negaranya Castro dan Bung Guevara yang bisa mandiri, ndak nunduk dan ngemis pada negara lainnya.."

 "Tau ndak Jii.. Yang ngajarin castro bisa nagtur dan mbangun negara itu malah Bung Karno lho.."

"Bung Karno dulu langkah pertamanya habis revolusi langsung data semua aset dan kekayaan negeri ini. Dia tau negara yang habis merdeka itu kelemahannya di modal, kalah sama negara kuat juga di modal buat ekonomi dan persenjataan.. buat membangun negeri.."

"Bung Karno buat gerakan nonblok kan tujuannya juga itu, saling membantu diantara negara yang baru merdeka soal permodalan dan persenjataan.. Visinya jelas perang kedepan adalah soal modal. Apa artinya merdeka kalau habis itu dijajah dalam bentuk baru.. Kapitalisme.. Dijajah negara raksasa dan pengusaha-pengusahanya lewat pinjaman dana dan modalnya buat bangun negara.. "

"Dia kenal SDM negeri ini dan paham benar potensi SDA nya.. Langkah lainnya itu dia memepersatukan rakyatnya dulu.. SDA kita kaya tapi SDM belum merata. Semua butuh waktu untuk menggali dan mengolah kedua potensi itu.. Persatuan Indonesia.. Sempat benar-benar bersatu dulu, rela susah makan susah segalanya tapi punya kebanggaan sebagai bangsa yang merdeka dan orang merdeka pula.."

"Alasan Bung Karno dulu keluar dari PBB kan karena bencinya dia melihat PBB ditunggangi negara raksasa buat menjajah negara yang baru merdeka dengan gaya baru. Perlakuan PBB juga standar ganda, kalau buat keperluan negara besar langsung dibantu tapi buat negara baru disepelekan..PBB taek! Bung Karno muak lalu keluarlah kita.. Tapi kita ndak takut, semua bangga pada presidennya.. Melawan semua negara juga berani.."

"Castro itu kan diajari Bung Karno tho Jii.. Yang pertama akumulasi modal, lalu dari modal itu utamakan buat rakyat, bangun sarana dan prasarana umum terutama bidang pendidikan dan kesehatan. Biar SDMnya cepat maju. Setelah SDM maju lalu bisa mandiri mengolah SDA, setelah mandiri baru bisa jadi negara yang benar-benar merdeka!!!"

Mbah Karmo kalau udah mbahas Bung Karno langsung berapi-api. Tapi logikanya masuk dan dia saksi sejarah juga.

"Lihatlah Kuba sekarang Jii, itulah visi Bung Karno yang ingin dia bangun di negara kita ini tapi malah terwujud di Kuba. Bung Karno pasti sangat bangga pada Castro dan Guevara.. "

"Lihatlah negara kita Jii, dirampok habis-habisan SDAnya, digerogoti koruptor-koruptor taek yang tega menjajah bangsanya sendiri.. Lihat SDM kita, kerja ke luar negeri karena terpaksa.. Cuma jadi tukang bersih-bersih di negara lainnya.."

"Logikanya dimana, negara yang SDAnya super, rakyatnya kok melarat dan kelaparan.. Asu Kabeh!!!"

"Bintang merah itu Jii..  Semoga tidak memakan korban rakyat yang ndak tau apa-apa.. Semoga ada revolusi baru di negeri ini.. Semoga satrio piningit cepat muncul dan bisa mengarahkan kita menuju gerbang menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi.. ayem tentrem karto rahardjo.."

Sebuah ramalan lama yang masih mengakar di budaya jawa, tentang figur misterius penyelamat bangsa yang akan membawa negara ke gerbong kemakmurannya. 

"Kamu Jii, Generasi muda.. Bangkitlah.. berjuanglah!! Lahirlah Sukarno baru!!! Bawa kejayaan dan kedaulatan negeri ini diatas bangsa lainnya!!!"

"Lha saya harus gimana Mbah?"

"Yang pertama ini Jii.. diingat baik-baik dan jalankan.."

"Opo mbah?" Saya penasaran menunggu petuah dari Mbah Karmo..

Lama saya tunggu mbah karmo malah menarik nafas panjang lagi, minum kopi dan menyalakan rokok.

"Yang pertama nyari calon istri dulu lalu nikah...."

"Asuuuu!!! mlipir koe Mbah.." Mbah Karmo ngakak kencang ke arah saya..

"Yo harus gitu Jii, latihan mimpin keluarga dulu, habis itu kalo udah berhasil latihan mimpin desa.. teruuus gitu.."Masih sambil tertawa. Menyebalkan..

"Bukane Pak Karno mimpin keluarganya juga kesulitan Mbah..Istrinya banyak.." saya mencoba alihkan perhatian dan adu argumen

"Huusss... Dicontoh baik-baiknya saja.. Tenang jii.. santai saja.. Kelak kamu akan dapat istri yg istimewa, sudah deket kok..  Anakmu juga akan menjadi orang besar yang bisa membawa perubahan negara ini.. Ndereko Gusti!"

"Amiiin mbaaah!!!!" Kata sejuk yang mendinginkan galau saya keluar dari mulutnya juga. Mungkin cuma omongan ngawur saja tapi setidaknya membangkitkan harap dan semangat.

Mbah Karmo pamitan mau pulang duluan, berjalan pulang dan menghilang di kegelapan malam. Sunyi, membaringkan diri di bebatuan. Memandang bintang merah itu dan berdoa semoga ndak akan terjadi apa-apa seperti cerita Mbah karmo tadi.

Tetiba Mbah Karmo sudah ada di belakang saya lagi, Terlalu larut dalam lamunan membuat konsentrasi berkurang. 

"Korekku ketinggalan, Jii... Asu edan.. nduwe rokok tanpa korek yo koyok kowe kui.. durung punya istri.. pahit lan sepi...hahahahhaa" datang cuma buat ngerjain lagi.

Ini orang tua kalo udah ngerjain emang tingkat kejamnya kek hitler.. Asu tenan.. :))

"Mbah, Saya mesti gimana ini.. Apa cuma diam saja setelah melihat pertanda.."

"Yo ikuti naluri kamu saja tho jii.. Kita cuma wayang.. skenarionya Gusti ada di hati nuranimu, kalo peka bisa membacanya.. Sing penting doa.. Nyari jodoh gitu juga... Usaha dengan ikuti kata nurani.. Wis kui rumus e.. biar jaman edan pokoke ojo melu edan.."

"Iya mbah, suwun wejangan dan ilmunya.. Lha mata saya ini bisa liat ginian terus Mbah?"

"Yo tergantung kamu sendiri, Kalo nuranimu kotor mata batinmu juga makin ndak jelas.."

"Kok diajarin ke saya, Mbah?"

"Yang ngajarin juga siapa, Koyok mbah wong pinter ae.. Mbah cuma ngikutin kata hati, semua ilmu punyanya Gusti.. yo memang jatahmu ae.."

"Wis, ayo pulang.. udah hampir jam 3 pagi.. Ibukmu lagi nginguk kamarmu itu.. Ndak kepikiran ndang bali.."

"Siap mbaah.. perasaanku juga ndak enak ini.. Lha ilmu mata tadi bisa dipause ndak biar liat yg biasa-biasa lagi.."

"Sini mbah bisikin doanya... ojo nganti lali.."

Saya dan Mbah Karmo pulang ke rumah masing-masing  berpisah jalan beda arah. Pulang sambil merokok dan coba mengingat baik-baik mantra pemberian Mbah Karmo.

Buat yang penasaran mantranya akan saya bagikan gratis buat semua yang baca. Hanya dua kata, mudah diingat biarpun dalam bahasa jawa. Ilmu kan buat dibagi.. Monggo dibaca bersama...





"ASU KABEH!!!!!" 

=))

Sunday, February 15, 2015

Wanita Misterius Bersyal Hijau

Aku masih ingat tanggalnya, 16 Juni dua tahun yang lalu. Tepat di hari ulang tahunku untuk pertama kali bertemu dengannya. Wanita misterius bersyal hijau.

Kadang terasa menyedihkan juga, ulang tahun membeli roti sendiri dan merayakannya sendirian di tempat yang jauh dari keramaian, di puncak sebuah bukit tempat aku biasa menyepi. Tapi kupikir itu lebih baik daripada merayakannya dengan basa-basi, dengan orang yang pura-pura perhatian. 

Pertengahan Juni, 2 tahun yang lalu. Siang yang panas, memasuki sebuah toko roti di dekat Rumah Sakit Umum di kotaku. Tatapanku tertuju pada deretan roti ulang tahun. Dinginnya penyejuk ruangan sedikit meneduhkan hatiku. Tak mengira hari itu sudah bertambah usia. 

Cuma ada beberapa orang di ruangan itu. Saat aku sedang merenung mencoba memilih roti, wanita itu berdiri di sampingku. Cantik, Selintas aku melihat wajahnya. Sama sepertiku, dia mematung memandang deretan roti.

Kami sama terdiam tapi sempat bertukar pandangan dan bertatap mata. Seketika aku merasa perih melihat matanya. Lukanya pasti begitu dalam, cuma dengan memandang kedua mata sayunya saja aku bisa merasakan dukanya. Wajahnya pucat, bibirnya juga jauh dari kata cerah. Mendung dan membisu. Sedikit memaksakan senyuman padaku.

Aku masih terdiam, memberinya kesempatan lebih dulu untuk memilih kue. Sweater dan syal di musim panas, seketika benak skeptisku terbangkitkan. Sepertinya bukan cuma hatinya yang terluka, tubuhnya juga sedang dalam keadaan lemah, dugaku. 

Rambut panjangnya tergerai seperti sutra, hitam menyatu dengan syal hijaunya. Seperti dugaanku dia akhirnya memilih kue ulang tahun berwarna hijau. Dia pasti sangat menyukai warna itu. Tak berniat menguping pembicaraannya dengan pelayan kasir itu tapi indra pendengaranku terpaksa menjadi saksi.

"Ini kuenya buat yang Ultah hari ini mbak?"

"Iya.."

"Mau ditambahi hiasan?"

"Tidak usah, seperti itu saja sudah cukup.."

"Buat pacarnya ya mbak?"

Pelayan toko itu mencoba beramah tamah dengannya.

Sejenak dia terdiam, suaranya merdunya, aku suka. Bahkan detik ini memoriku masih bisa mengingat jenis suaranya.

"Bukan, buat saya sendiri.. " Jawabnya sambil mencoba tersenyum memaksakan diri lagi.

Sebuah jawaban yang membuat detak jantungku serasa berhenti untuk beberapa saat. Orang yang sama tanggal lahirnya denganku ternyata bernasib sama denganku. Membeli kue ulang tahun sendiri dan mungkin merayakannya sendirian pula. Pedih ini ternyata aku tidak merayakannya sendiri.

Sedikit banyak aku tahu perasaanya walaupun ini baru pertama kali aku merayakan dan membeli roti untuk ulang tahunku sendiri. Batuknya membuyarkan benakku, Dia mengeluarkan tisu dan ada bercak darah disana, di mulutnya, di bibirnya yang layu.

Syalnya terjatuh dan aku mengambilkannya, ingin sekali memakaikannya di lehernya yang putih. Aku tak bisa berkata apa-apa, cuma bisa memandangnya dan menyerahkan syal itu padanya. Wajahnya seperti imajinasiku ketika membayangkan dewi dalam mitologi yunani, Dewi Athena. 

Kata-kata terimakasih dari mulutnya sampai tak terdengar, hanya anggukan reflek saja dariku sebagai balasannya. Anggukan sebuah tanda kekaguman pada keindahannya. Sekali lagi dia tersenyum, membuatku salah tingkah dan hanya bisa terpaku sambil menggaruk rambut sebagai tanda kegugupanku. Berjalan pelan menjauh dariku menuju kasir. Bau badannya menerpa batinku, meninggalkan bau yang tak mungki kulupa, Bau melati.

Aku hanya bisa terpana, mengamatinya dari kejauhan saat dia berjalan keluar. Menyayangkan kenapa tidak sempat berkenalan. Aku masih hapal nomor plat mobilnya sampai kini. Masih ingat juga sosok terakhir dirinya saat memasuki mobil dan kemudian menghilang pergi. Anggun, sebuah kata untuk mendeskripsikan siluetnya saat berjalan dan memegang kemudi.

Bergegas aku memilih kueku. Kue yang paling kecil dan satu buah lilin di atasnya. Cepat melangkah, menghindari pertanyaan basa-basi dari pelayan toko. Bergegas pulang dan entah kenapa dalam perjalanan yang terbayang adalah sosoknya, Athena. 

Sakit apa yang diderita tubuhnya?
Luka apa yang begitu membekas di hatinya?

Berbagai pertanyaan masih menemaniku sore itu mengejar sunset dalam perjalanan sendirian menuju puncak bukit merayakan ulang tahunku.  Tak terasa sampai di puncak juga. Memandang senja, entah kenapa yang terbayang adalah wajahnya. Matanya seperti matahari menjelang senja.

"Apakah dirinya sudah mendekati senja kehidupannya?"
"Andai aku bisa punya kekuatan seperti tokoh di death note yang bisa mengetahui sisa umur seseorang.."

Pertanyaan yang cepat-cepat aku hentikan. Terlalu menyedihkan bila sampai seseorang seindah dia meninggal secepat itu. Tapi saat memandang matanya, batinku  melihat nyala kehidupan di dirinya memudar. Aku coba membungkam tanyaku dan alihkan perhatian.

Senja jatuh di kaki langit, Aku nyalakan lilin di kue ulangtahunku. Mencoba menutup mata dan berdoa, semilir angin petang itu membawa bau tubuhnya, bau melati yang tak akan mungkin kulupa. Bau yang membuat bulu kudukku berdiri. Sosoknya hadir dalam pejamku. Matanya, bibirnya, rambutnya, senyumnya dan syal hijau yg melingkar di lehernya.

"Selamat ulang tahun, Athena! Semoga kau selalu baik-baik saja.. Semoga kita bisa bertemu lagi suatu hari nanti.. Semoga.." Kutiup lilin menutup harapku.

Coba paksakan berdoa untuk diri sendiri tapi yang keluar dari batinku adalah doa untuk Athena. Doa untuk wanita yang ulangtahunnya sama denganku. Doa untuk sosok yang sering menemaniku dalam hening meditasiku. Sesosok wanita cantik bersyal hijau dengan luka di tubuh dan hatinya yang terkadang bisa menerobos masuk ke mimpiku. Sosok yang kadang menangis di dalam kegelapan kamarku ketika senja sepulang kerja. Sosok yang kadang bernyanyi kecil meninabobokkanku tanpa pernah mengenalkan namanya.  Sosok yang sekarang ada di depanku dengan senyumnya dan bau melati yang membuat kamarku menjadi makin dingin dan mewangi.

Sunyiku tak pernah benar-benar sunyi. Sendiriku tak pernah benar-benar sendiri. Hanya aku dan dua huruf inisial nama saja di koran lama tentang seorang gadis yang bunuh diri yang tahu benar bagaimana rasanya. Hanya doa-doa yang selalu dia minta saja yang jadi saksinya.