Translate

Monday, October 17, 2016

Mau tak Mau (Mengingat Riko)


Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kematian
Tentang pemakamannya di senja yang muram
Bertanya-tanya, senja semacam inikah
yang membuat seorang Subagio Sastrowardoyo
begitu patah hati, begitu menghindari.

Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kepedihan
Mengapa tak aku atau kaumku saja yang pergi lebih dulu
Yang sudah begitu sinis berhadapan dengan dunia
Yang sudah terlalu banyak kehilangan gairah pada kehidupan
Begitu lelah, begitu merindukan pertemuan dengan Tuhan.


Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kesakitan
Kurus kering di kursi rodanya, nyeri menjalar dari kanker di kaki
yang sudah tinggal kulit dan tulang dimakan keadaan
Tapi harapnya begitu tegak kembali menapak
Begitu riang, penuh keyakinan

Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat ketabahan
Senyum terakhirnya begitu menguatkan
Sempurnalah sudah semua perjalanan
Riko temukan bait terakhir seperti  Rendra
Tulisan yang begitu mendewasakan
"Aku Cinta Kau, Tuhan ..."


Selamat malam lagi, Riko
Apa kabar? Kita ketemu lagi di doa untukmu ya...
Berlarilah lagi di taman lapang Tuhan yang begitu kau cintai
(Riko, dalam kenangan. Teman, Saudara, adik, dan sahabat kami tercinta.. #BFF)




Thursday, September 10, 2015

Kepada Dik, (2)

Kepada Dik,

Yang hatinya macam sabana
pada kemarau musim harapnya
hamparan rumput kering dan belukar
digesek angin berkabar langsung terbakar

Aku mulai serius bertanya
rasa macam apa yang kau pinta
Aku mulai serius percaya
wanita tak sesederhana matematika

Mampuslah aku ini
badai disuruh
ninabobokkan bunga

Kalau benci bilang benci
Kalau rindu bilang rindu
Kalau cinta bilang cinta

Apa susahnya...



Friday, April 17, 2015

Jegeg,


Geg,
Kegelapan, tak pernah bisa
padamkan sedih.
Kesunyian, tak pernah bisa
membungkam sesal.

Tak lelahkah pecahi cermin?
Tak bosankah berkacakaca?

Hentikanlah hirup debu kutuk
sari tangis mereka yang kau lukai.
Bacalah kembali mantra suci
kidung pertama lahir ke dunia.
Keluarlah dari kubangan dendam.
Nurani terlampau lama
kau penjarakan.

Hapus gincumu.
Rapatkan kembali pahamu.
Beningkan putih matamu.
Buang riasan palsu di alismu.

Pijaklah lagi pasir tawa
Tarikanlah bahagia
yang tak beralaskan luka.
Bahagia yang sebenarnya.

Bahagia,
seperti senyum
bapak ibumu
ketika sambut
kelahiranmu...
.....................................

Sunday, April 12, 2015

Kutulis untukmu,

Dunia macam apa pula ini...
Peradaban makin melestarikan basabasi...

Di mana nurani...
Di mana harga diri..

Kastaku anjing...
Tapi aku merdeka..
Aku tak punya tuan..
Yang aku miliki hanya Tuhan..

Tuhan yang mengasihi
dua puluh empat jam sehari..

Aku sering dianggap tai..
Dihinakan dan dijauhi..
Hanya karena ikuti nurani..
Tapi aku tak peduli..

Aku tai yang merdeka..
Aku tai yang bahagia..

Kau bisa apa.. 

Hamba uang bisa apa.. 
Hamba pujian bisa apa.. 
Hamba kedudukan bisa apa.. 
Hamba dunia bisa apa coba...

Kutulis untukmu,
Yang terpenjara di antara paha selingkuhanmu..
Ayo pulang,
Kita punya janji yang belum dituntaskan..

Sunday, April 5, 2015

Kepada Dik,



Kau minta padaku,
tulislah puisi seperti Sapardi.
Mampuslah aku ini,
Badai disuruh ninabobokkan bunga.

Aku usaha tulis juga..
Walau kasar tapi sarat doa..

Untukmu saja..

Untuk yang bening matanya
sering disembunyikan di balik tangis.

Angin April bawakan hujan
Kurang apa coba?

Basuhlah luka..
Terbitkanlah tawa..

Menari..
menarilah lagi..

Sampai hatimu,
pulang ke asalnya lagi..

Kau minta padaku,
tulislah puisi seperti Sapardi.
Mampuslah aku ini,
Badai disuruh ninabobokkan bunga.

(Kepada dik, Yang usia kandungannya sudah tujuh bulan. Semoga semuanya dilancarkan..  )
.