Translate

Sunday, December 15, 2019

Sebercanda Itu

Di duniaku, semesta kadang sebercanda ini. Entah bagaimana di duniamu. Saat mencoba bersetia, mereka berkhianat tanpa alasan yang bisa kuduga. Saat mencoba tulus, mereka berkebalikan penuh kepentingan. Tidak dianggap, dijauhi pelan-pelan, menjadi yang terlupakan, disingkirkan saat tak lagi dibutuhkan seperti tontonan komedi yang berulang.

Dunia seperti berlomba membuatku trauma. Seperti mencoba memaksaku berpikir berbuat baik adalah sebuah kesalahan. Semesta seperti berkonspirasi memisahkanku dari harapan, membuatku begitu susah percaya kepada orang. Walau terkadang rasanya seperti dipermainkan, Walau getirnya tak tertahankan tapi aku tetap jabat erat takdirku, aku orang yang percaya pada janji baik kehidupan. Semesta akan membangkitkanku dengan cara indahnya, seperti sebuah pertemuan di Solo baru  denganmu misalnya.

Solo, entah kenapa dari kecil batinku selalu menolak ke arah sana. Bilapun melintas, secepatnya aku ingin melewatinya. Sebenarnya kota yang cantik, tapi cantik itu luka, kan. Solo baru agak berbeda, batinku bisa merasakannya dan cerita penjual bubur ayam di depan hotel tempat kita bertemu meyakinkannya. Apa kau tahu, dulu inilah salah satu tempat paling membara saat kerusuhan awal reformasi, bakar membakar tragedi. Namun kini bangkit lagi. Menjadi hidup. Tempat yang bagus untuk belajar berdiri, berjalan, membuka mata, hati, pikiran.

Seperti saat memperhatikanmu diam-diam di depan pintu, di meja panitia. Saat kau sendirian dan mungkin tak sadar aku ada. Hanya ada kita berdua berjarak keterasingan dan diam. Mengingatkanku pada cinta pertama, hanya bisa terpaku saja, tak ada kata hanya ada bahasa hening sambil menghafal mimik wajah dan gerakanmu. Aku tak mampu bergerak, tak mampu menebak, otak tetiba mati, tak punya kemampuan berpikir lagi. Seperti berjumpa bencana, kudengar ada yang jatuh di hatiku, hanya kuat bersimpuh di pojok ruangan sambil mencuri pandang. Dan  kurasakan makhluk aneh bersayap di dalam dadaku itu mengepak lagi setelah bertahun diam, Makhluk aneh yang suka bercanda denganku saat kurasakan rasa itu. "Apa kabarmu? Lama tak berjumpa.." Dan dia tertawa, aku juga tertawa, Menertawakan aku bersama, "Sialan, rasanya seperti kembali jadi pemula." Pemula yang hanya berani memandang dari bangku paling belakang di sekolahan, hanya berani menulis puisi tapi tak mampu memberi. Yang suka tersenyum sendiri saat selesai berpapasan. Yang senang bercerita kepada Tuhannya, tentangmu. Yang menikmati kesibukan barunya saat merindukanmu.

Pemula yang tetiba lupa segala sakit dan keengganannya pada dunia. Yang menganggap pernikahan adalah kekonyolan. Kau adalah pencerahan baru langkah hidupku. Tak tahu nama, tak tahu statusnya, tak tahu agamanya apa, apakah sudah punya pacar, apakah sudah menikah, apakah sudah punya anak,  tak tahu segalamu tapi apa peduliku. Berjumpa denganmu adalah awal kebangkitanku walau setelahnya aku tak karuan. Aku bersyukur banyak hari itu, meskipun kupikir kau hanya sekedar bintang jatuh atau kembang api yang indah melintas sebentar lalu padam lagi, itu cukup. Jiwaku tersembuhkan setelah tahunan tak punya alasan. Menjadi platonis sejati pun tak apa, asal hidup ada gairah lagi. Bernyawa.

Kembali dari Solo baru, aku menjadi orang baru. Rambut agak rapi, hidup agak rapi, bangun pagi walau belum mampu bersentuhan dengan kopi. Asam lambung sialan. Aku sering menggerutu bila ingat dirimu, mereka berpikir karena aku tak dapat uang saku perjalanan dinasku tapi bukan itu. Aku sering menyendiri di ruang band kantorku sambil berdiam memegang gitarku, mereka berpikir aku sedang berduka tapi bukan itu. Aku seperti pemula dulu cuma sekarang lebih dewasa, Aku tak sedang  berduka aku sedang menghadapi cinta. Dan makhluk aneh itu tertawa.

Aku blingsatan tapi tak ada yang kusalahkan. Dalam renungan teringat doa lama dulu. Usai berhadapan dengan luka terhebatku. "Tuhanku, Yang Maha Pengertian. Aku tak minta banyak dalam kehidupan. Dipercaya menjalani takdirku adalah sebuah kebahagiaan. Aku cuma minta, bila ada takdir pernikahan, beri tanda dan ijinkan semesta bekerja untukku dan dia. Aku minta kisahnya seru, tak bisa ditebak, mendebarkan, tak mampu kujangkau dengan pikiran. Dan di akhir nanti aku ingin kisah romantis yang bisa mempermudah diriku menjelaskan kepada anak cucuku tentangMu. Bahwa Kau Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Asyik dan Seru, Maha Indah dalam segala kuasaMu."

Aku tak karuan tapi tak ada yang kuperdebatkan. Ini jelas gegara mauku yang diwujudkan. Semesta bekerja tak terduga. Bintang jatuh itu ternyata punya nama, punya kota dan nomor WA juga. Duniaku benar berubah adanya, semestaku berotasi padamu dan kotamu menjadi ibukota rinduku. Sebelum WA-ku kepadamu beberapa perjalanan malam telah kulalui di kotamu. Bangku pinggir jalan, beberapa manusia malam dan percakapan, gapura menuju kampungmu yang kadang kupandang lama dalam diam. Hape yang sengaja kumatikan internetnya agar tak menggangu istirahatmu dengan WA-ku. Aku menjadi seperti setengah Umbu Landu Paranggi, yang suka memandang kota cintanya lalu pergi lagi. Berkali-kali. Aku menjadi platonis lagi namun tak utuh karena makhluk aneh itu kini makin dewasa adanya. Nasihat baik yang diberinya walau kadang seperti bercanda, seperti Wa saat aku pertama bilang aku ada di kotamu, saat gelagapan ditebak bapak tua tukang parkir yang membuatku tertawa sendirian sepanjang perjalanan pulang. " Kau tak bisa membohongiku, kau sedang jatuh cinta kan, kau sedang mencari rumahnya.. " dan aku aku hanya bisa berkata.. "Sikak!" sambil tertawa berdua di jam 11an malam bersamanya.

Kotamu indah, hanya kurang hujan dan seseorang. Dirimu, tepatnya. Dan kau beruntung saat pertama kali aku bilang di kotamu kita tak bertemu. Yang paling ingin kulakukan saat itu hanya akan bertemu orangtuamu sambil meminta maaf, " Maaf saya mencurigai anak anda sebagai jodoh saya, dan yang saya mau tak sekedar cinta darinya, sesuatu yang lebih. Menikah dan beranakpinak dengannya."

Yang akan kukatakan padamu di malam itu, "Aku malas berbasabasi. Aku tak peduli masalalumu, aku berpikir tentang masa baru, masa depanmu. Semua pahit yang terjadi di masa lalumu, maafkanlah aku, salahku tak ada di dekatmu waktu itu. Kalau kau jodohku, aku benar-benar minta maaf aku tak tertarik  pacaran dengamu, aku ingin menikah dan membuatmu bahagia setiap harinya. Membuatmu tersenyum sebanyak mungkin seperti yang kutangkap dalam kamera.  Aku benar-benar minta maaf begitu malas dan bodohnya mencarimu dulu. Tak ada di saat-saat susahmu, tak hadir di saat kecewa dan kesendirianmu. Aku bukan ahli menebak tapi cantik itu luka dan matamu pernah memandangku, kemudian sedikit bercerita."

"Kalau kau bukan jodohku, itu pun tak apa. Hanya sedikit mengurangi rasa bahagiaku tapi tetap mengenyangkan rasa bersyukurku. Tak kupermasalahkan, Kadang duniaku memang sebercanda itu.."

"Dunia memang sebercanda itu..." Makhluk aneh bersayap itu tertawa sambil mengiyakan yang kukata mengitari cincin emas di kalungku.


-Bangku, kopi dan bayanganmu
1 Desember 2019

Sunday, October 23, 2016

Parto Kelir, Mbak Yun dan Problemnya (Dalan Anyar)


Aku terbangun dari tidur siangku gara-gara pertengkaran hebat Parto Kelir yang lagi istirahat siang pulang ke rumahnya. Mbak Yun terlihat ganas tapi cantik seperti biasanya, membentak dan menuding ke wajah suaminya itu. TKP-nya di halaman rumahku.  Si Billy, anaknya Parto Kelir dan Mbak Yun yang baru kelas tiga SD dengan ciri khas  rambut kliwir mburi, malah nyantai banget. Bersama teman-temannya yang pulang cepat dari sekolah gara-gara gurunya mau demo minta kejelasan nasibnya sebagai guru wiyata yang terlunta-lunta, asyik nonton dan nyorakin nambah semangat yang lagi bertengkar. Mereka pikir ini mungkin semacam sinetron yang sering mereka tonton. Ini mungkin sisi baiknya tontonan televisi jaman sekarang. Mereka terbiasa melihat pertengkaran. Sayangnya sekarang ini di depan rumahku tidak ada KPI yang biasanya main sensor.

Parto Kelir cuma pakai kolor biru dengan perut yang membuncit kebanyakan ciu. Kumisnya terlihat semakin menebal mirip kumis polisi india berlawanan dengan rambut di kepalanya

Monday, October 17, 2016

Mau tak Mau (Mengingat Riko)


Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kematian
Tentang pemakamannya di senja yang muram
Bertanya-tanya, senja semacam inikah
yang membuat seorang Subagio Sastrowardoyo
begitu patah hati, begitu menghindari.

Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kepedihan
Mengapa tak aku atau kaumku saja yang pergi lebih dulu
Yang sudah begitu sinis berhadapan dengan dunia
Yang sudah terlalu banyak kehilangan gairah pada kehidupan
Begitu lelah, begitu merindukan pertemuan dengan Tuhan.


Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat kesakitan
Kurus kering di kursi rodanya, nyeri menjalar dari kanker di kaki
yang sudah tinggal kulit dan tulang dimakan keadaan
Tapi harapnya begitu tegak kembali menapak
Begitu riang, penuh keyakinan

Mengingat Riko,
Mau tak mau aku harus mengingat ketabahan
Senyum terakhirnya begitu menguatkan
Sempurnalah sudah semua perjalanan
Riko temukan bait terakhir seperti  Rendra
Tulisan yang begitu mendewasakan
"Aku Cinta Kau, Tuhan ..."


Selamat malam lagi, Riko
Apa kabar? Kita ketemu lagi di doa untukmu ya...
Berlarilah lagi di taman lapang Tuhan yang begitu kau cintai
(Riko, dalam kenangan. Teman, Saudara, adik, dan sahabat kami tercinta.. #BFF)




Thursday, September 10, 2015

Kepada Dik, (2)

Kepada Dik,

Yang hatinya macam sabana
pada kemarau musim harapnya
hamparan rumput kering dan belukar
digesek angin berkabar langsung terbakar

Aku mulai serius bertanya
rasa macam apa yang kau pinta
Aku mulai serius percaya
wanita tak sesederhana matematika

Mampuslah aku ini
badai disuruh
ninabobokkan bunga

Kalau benci bilang benci
Kalau rindu bilang rindu
Kalau cinta bilang cinta

Apa susahnya...



Friday, April 17, 2015

Jegeg,


Geg,
Kegelapan, tak pernah bisa
padamkan sedih.
Kesunyian, tak pernah bisa
membungkam sesal.

Tak lelahkah pecahi cermin?
Tak bosankah berkacakaca?

Hentikanlah hirup debu kutuk
sari tangis mereka yang kau lukai.
Bacalah kembali mantra suci
kidung pertama lahir ke dunia.
Keluarlah dari kubangan dendam.
Nurani terlampau lama
kau penjarakan.

Hapus gincumu.
Rapatkan kembali pahamu.
Beningkan putih matamu.
Buang riasan palsu di alismu.

Pijaklah lagi pasir tawa
Tarikanlah bahagia
yang tak beralaskan luka.
Bahagia yang sebenarnya.

Bahagia,
seperti senyum
bapak ibumu
ketika sambut
kelahiranmu...
.....................................

Sunday, April 12, 2015

Kutulis untukmu,

Dunia macam apa pula ini...
Peradaban makin melestarikan basabasi...

Di mana nurani...
Di mana harga diri..

Kastaku anjing...
Tapi aku merdeka..
Aku tak punya tuan..
Yang aku miliki hanya Tuhan..

Tuhan yang mengasihi
dua puluh empat jam sehari..

Aku sering dianggap tai..
Dihinakan dan dijauhi..
Hanya karena ikuti nurani..
Tapi aku tak peduli..

Aku tai yang merdeka..
Aku tai yang bahagia..

Kau bisa apa.. 

Hamba uang bisa apa.. 
Hamba pujian bisa apa.. 
Hamba kedudukan bisa apa.. 
Hamba dunia bisa apa coba...

Kutulis untukmu,
Yang terpenjara di antara paha selingkuhanmu..
Ayo pulang,
Kita punya janji yang belum dituntaskan..

Sunday, April 5, 2015

Kepada Dik,



Kau minta padaku,
tulislah puisi seperti Sapardi.
Mampuslah aku ini,
Badai disuruh ninabobokkan bunga.

Aku usaha tulis juga..
Walau kasar tapi sarat doa..

Untukmu saja..

Untuk yang bening matanya
sering disembunyikan di balik tangis.

Angin April bawakan hujan
Kurang apa coba?

Basuhlah luka..
Terbitkanlah tawa..

Menari..
menarilah lagi..

Sampai hatimu,
pulang ke asalnya lagi..

Kau minta padaku,
tulislah puisi seperti Sapardi.
Mampuslah aku ini,
Badai disuruh ninabobokkan bunga.

(Kepada dik, Yang usia kandungannya sudah tujuh bulan. Semoga semuanya dilancarkan..  )
.

Monday, March 16, 2015

Selepas Hujan



Bulan penuh bundarnya,
malam terbelah dua,
sisa hujan masih terjejak.

Pada persimpangan gang sempit,
rombongan kucing berkejaran,
bagai begal berebut perawan.
gaduh mencakar kelam jalanan.

Suara mereka mirip terompet,
tiupan lepas bibir si kecil.
Tak paham  ada yang sedihnya lengket
nyali bapaknya semakin kerdil.

Hela nafasnya kaku,
hisap lintingan bak cerutu.
Dagangannya tak kunjung laku,
pada langit basah di tahun baru .

Hujan membawa berkah..
Hujan membawa resah..

Pesta kembang api padam
orang terberai lalu lalang
kertas dan sampah kesakitan.

Pada ujung gang sempit,
tepi lokalisasi  tak bernama.
Wanita paruh baya lambaikan nasib,
gincu merah menempeli  batang rokoknya.

Ikuti jalannya jaman,
penuh luka dan tangisan.
Tak dapat satupun pelanggan
sayang bukan karena derasnya iman.

Tatapannya nanar,
semua bagian tubuhnya melar.
Ah, ada pula yang menyempit,
waktu, uang dan penyakit.

Hujan membawa berkah..
Hujan membawa resah...


Dua setengah bulan berlalu,
peristiwa melintas bisu.
Tanah basah paksa aku cerita.

Senja tinggal abunya,
kelelawar menarikan kepak resahnya.
Pertanyaan menghujam di kepala,
dari dia yang kuasai aku punya rasa.

Kemarau 'kan datang,
musim pengembaraan membentang.
Sabana menunggu disapa,
puncak menantang diciumi keningnya.

Langit tuliskan apa?
musim lepas rindu jadikah nyata?
Wanitaku menanti dipeluk,
Perempuanku membayang di ufuk.

Hujan membawa berkah..
Hujan membawa resah..

(16 maret di sore yang dingin. Kopi, rokok dan percakapan batin tanpa jawab...) 

Wednesday, March 4, 2015

Tak Sepadan (Chairil Anwar)


TAK SEPADAN
 

Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros


Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka


Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka


Chairil Anwar
Februari 1943


Chairil Anwar, Idola saya. Dalam masa hidupnya yang bisa dibilang cuma sebentar, karyanya abadi. Dibukanya puisi tentang kematian neneknya dan ditutup dengan puisi kematian renungan untuknya yg menjelang ajal. Link tadi tribut buat Chairil Anwar dan Netral.   Netral, terutama lagunya yang berjudul Hujan di hatiku. Ada di playlist abadi saya juga. Menemani beribu kali kesepian dan pengembaraan.

Tak sepadan, Puisi ini jujur sering jadi pengingat saya waktu dekat dengan wanita. Apalagi mereka merespon positif.  Sadar keterbatasan  dan "kegilaan" saya pasti akan menyengsarakan mereka kalau berjalan bersama. Sadar juga hampir tak ada wanita yang akan kuat menjalani kehidupan yang saya idamkan. Palingan mereka menyerah di tengah jalan dan saya gagal move on karena ketergantungan pada hatinya. Semacam dikutuk Eros, hati mereka sudah tertutup lelaki lain sedang saya merangkaki kenangan saja yang dingin dan pintunya sudah tertutup saat saya rindu memasukinya. Akhirnya mereka baik-baik saja sedang saya terpanggang tinggal rangka. :))

Saya tak begitu peduli akan harta dan tahta, bisa dibilang saya tidak peduli akan standar dunia. Yang saya pedulikan cuma hidup dalam jalan kebebasan dan bisa hidup bahagia tanpa menyusahkan orang lain. Mungkin kalau saja saya tidak memikirkan Ibuk, maka bisa dipastikan yang akan saya tempuh seperti jalan Umbu Landu Paranggi. Berkelana sambil menulis apa saja, menggelandang. Atau bisa jadi lebih parah lagi seperti Alexander Supertramp di film "Into The Wild" Jujur kecil mimpi saya mirip dia, membuang dunia dan menyepi ke alam bebas.

 Thx banget buat yang mau baca, syukur-syukur dengerin youtubenya.

Sunday, February 22, 2015

Itu saja


Pergi,
Pergilah,
Bawa saja hatiku,
Aku tak terlalu membutuhkannya.

Buang,
Simpan,
Ah, Terserah kau sajalah,
Kupercayakan semua isi dada.

Tapi,
Kumohon,
Bawa juga sakitnya,
Aku ingin sekali lagi bisa tertawa!


Itu saja

Wednesday, February 11, 2015

Untuk anak lanangku (Nanti..)


Nang, Bila kelak kau lahir nanti yang pertama akan bapak ajarkan adalah bahasa "I Love U". Bahasa cinta. Bahasa yang bisa dipahami semua makhluk di bumi ini. Bahasa Tuhan juga.

Nang, suatu saat nanti pahamilah bapak bukanlah gurumu. Bapak tidak akan pakai cara menggurui. Bapak akan transfer ilmu yang bapak tau dan begitu juga sebaliknya. Bapak juga akan belajar memahamimu, kita akan belajar bersama. 

Nang, Kata pertama yang harus kau bisa adalah "Ibuk" biarlah kata "Bapak" menyusul kapan saja kau suka. Ibuk adalah wakil Tuhan yang sebenarnya. Bapak hanya asistennya saja.

Nang, kau boleh bandel tapi jangan pernah nakal. Bapak suka anak bandel. Kemaki sedikit juga ndak papa. Gondrong juga boleh, tatoan bonus permen juga bebas. kau tertawa bapak ikut bahagia.

Nang, kau boleh menangis tapi jangan pernah jadi anak cengeng dan manja. Lelaki harus kuat, tegar dan

Tuesday, January 20, 2015

Untuk pelacur tua

Pada selangkangan pelacur tua
Aku lihat doa
Aku lihat air mata
Aku lihat Kau; Tuhan!

Aku bisa apa
Kulemparkan uang ke wajahnya

Pergi
Pergilah
Jangan menangis
Jangan menangis lagi
Setidaknya untuk malam ini

Aku bisa apa
Kulemparkan botol ke langit malam

Doa
Doalah
Kemana saja
Kemana sajalah
Terus doa
Terus doalah
Berdoalah untuk selamanya

Tuesday, January 13, 2015

Kau Tetap Suci! ( Tulisan untuk korban perkosaan )


Ah, Sayang
Sutra terlanjur  jadi benang
Tenanglah tenang!!!
Janin di perutmu tak butuh tangisan
Balut dengan kasih sayang

Walau kita bukan di Nazaret
Walau ini jaman sesudah masehi

Ingin kusebarluaskan berita
Nasibmu serupa perawan suci Maria

Tapi siapa yang akan percaya?
Tapi siapa yang akan peduli?

Ah, Sayang
Usirlah resah di hati
Pergilah pergi!!!
Janin di perutmu titipan Gusti
Peluk dengan sepenuh hati

Walau kita bukan di Nazaret
Walau ini jaman sesudah masehi

Setiap kelahiran itu suci
Tak peduli calon nabi atau calon napi

Apakah benar-benar sudah tidak ada yang percaya?
Apakah benar-benar sudah tidak ada yang peduli?

Ah, sayang
Kau tetap suci!
Kau tetap suci!!
Kau tetap suci!!!
Kau tetap suci!!!!

Sunday, November 30, 2014

Mencari Takut di Belaian Rahwana ( Pendakian di Lereng Gunung Ungaran )


Malam Packing ke Merbabu
"Menjelajahi gunung kecil tapi tak jelas rutenya jauh lebih berbahaya bila dibandingkan dengan Menjelajahi gunung yang besar tapi dengan penunjuk arah pasti! "

Sebenarnya rencana di akhir minggu ini adalah pendakian ke Gunung Merbabu tapi karena ada keperluan yang mendesak akhirnya batal padahal sudah packing tinggal berangkat. Sebagai penawar, saya ganti dengan napak tilas masa kecil dulu, jalur alternatif yang saat kecil  jadi jalur berpetualang menuju kawah di kompleks wisata Candi Gedong Songo. Bagi saya, Gunung Ungaran adalah tentang Rahwana. Cerita mitos tentang Gunung ini adalah tempat bersemayamnya Rahwana. Kawah belerangnya adalah nafas Rahwana. Dan patung Hanoman adalah segel pengunci terlelapnya Rahwana. Cerita yang banyak saya dengar dari orang - orang tua dulu waktu masih kecil. Jalur yang akan saya tempuh konon ceritanya adalah jalur tua yang biasa digunakan penduduk lereng jaman dulu  untuk beribadah,membawa sesaji ataupun bertapa menuju kompleks candi.

Gunung Gendol (Anak Gunung Ungaran ). Gunung Ungaran tertutup kabut.


Sejak kecil, lereng Gunung Ungaran adalah misteri besar bagi saya. Lebih menarik dari misteri segitiga bermuda. Seperti ada kutub magnet kuat yang menarik imajinasi dan adrenaline untuk menjelajahinya. Kalau puncak gunungnya entah sudah berapa kali  mencapainya sampai tidak bisa menghitungnya secara pasti  tapi lerengnya masih banyak yang perawan dan belum pernah saya jelajahi dengan rinci. Lereng itu sementara ini di benak dan memori kebanyakan masih tentang mitos dan cerita yang tidak pasti faktanya. Konon di Gunung Gendol ( Anak gunung di lereng Gunung Ungaran, bisa ditempuh lewat jalur Watu Kodok dekat perkemahan Bantir ) masih bisa ditemui hewan - hewan langka seperti harimau jawa. Saking misteriusnya katanya beberapa tahun silam sempat dijadikan perkebunan ganja karena jarang ada yang berani menjelajahinya. Banyak lagi cerita lain seputar lereng dari mulut ke mulut baik tentang yang natural maupun supranatural.

Kalau disebut pendakian mungkin kurang tepat karena tidak mencari puncak tapi mencari "sesuatu yang hilang " dari dalam diri saya. Sesuatu yang menghilang pada hari dimana saya kehilangan cinta,mimpi dan

Tuesday, September 23, 2014

Duryudana dan cinta sejatinya #Drama Satu Babak #Banowati oh banowati

( Maharesi Durna telah mengajarkan padaku berbagai macam ilmu dan kesaktian tapi dari ratusan ilmu itu tak ada satupun  yang mampu menghadapi serangan cinta... Dari awal sampai akhir aku bertekuk lutut di hadapan cinta..  ::: Duryudana ::: )

Pernahkah melihat seorang lelaki yg berkumis tebal dan berbadan kekar menangis sambil memeluk guling? Langka... sangat langka.. tapi malam itu seorang ksatria yg terkenal sangarnya,brangasannya,kejamnya dan bermacam watak yg seharusnya jauh dari air mata terkapar seperti tak bernyawa. Sisi lain dari seorang Duryudana yg jarang terlihat lemahnya tertangkap mata oleh Batara Kamajaya dan Kamaratih sang penguasa cinta.,

Duryudana mabuk berat minuman bergambar tiga dewa Cong Yang dan bermacam2 minuman kelas kebawah dan bawahnya lagi semacam ciu dan anggur orang tua. Rokok Marlboro merah sudah habis dua bungkus.Sebuah lagu dari Repvblik, sandiwara cinta diulang berkali2 di playlist winamp laptopnya.

Arjuna (Close to you... )

Soal sejarah masa kecil Arjuna saya sarankan baca saja di wiki. Saya akan tulis dari sudut pandang dan pemahaman saya pribadi. Kalo pingin mengikuti alur pemikiran saya maka coba dengarkan lagu The Carpenters : Close to you. 
 

Why do birds suddenly appear
Every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you


Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by?
Just like me, they long to be
Close to you


On the day that you were born
The angels got together
And decided to create a dream come true
So they sprinkled moon-dust
In your hair of gold
And starlight in your eyes of blue

Untuk memahami seorang arjuna maka pejamkan mata anda dan anda bayangkan pria idaman anda(Khusus buat pembaca cewek dan gay ). Bila dia seperti Lee Min Ho atau selevel itu maka arjuna minim 3 level di atasnya. :)) seperti tulisan tentang 90% penulis ilmiah tentang indonesia adalah orang luar semacam itu pula 90% wanita di masa itu.Fans Beratnya arjuna karena ketampanannya memang di atas normal.  Seperti lirik lagunya Close to you juga. Dia membuat semua wanita yg ada di sekitarnya tau apa itu sempurna. Dia produk paling canggih dari dewa dewi kalo soal fisik lelaki. Don Juan sejati. 

Monday, July 21, 2014

Catatan Harian Seorang Preman



Catatan Harian Seorang Preman

Episode 1 : Aku Bukan Pengemis

Sebut saja namaku Jerry, orang usiran kota raya. Anak dari seorang ayah yang kejujurannya menembus dadaku setiap hari. Anak dari seorang ibu yang ketulusan dan kasih sayangnya membungkus hariku lebih  hangat dari kulitku sendiri. 

Ayahku pekerjaannya seperti Tuhan di salah satu keyakinan di negeri ini, Dia seorang tukang kayu dengan jiwa yang sangat sederhana. Ibuku seorang pedagang keliling yang menjual gorengan dan makanan kecil di dekat rumahku. Mereka orang kampung yang mencoba mengadu nasib di kota demi masa depan yang lebih. Oya, aku tinggal di pinggiran kota raya, di sebuah rumah kontrakan sederhana dekat komplek lokalisasi. 

Hal terakhir yang kuingat dari  dari ayahku, Dia meninggal saat ikut sebuah proyek. Terjatuh dari lantai atas.

Monday, March 31, 2014

Hachiko dan Adipati Karna ( Loyalitas Tanpa Batas )


Lama tidak menulis karena kesibukan akhirnya ada waktu juga. Awalnya saya mengira air mata ini telah lama kering tapi hari ini mengalir lagi gara2 menonton ulang koleksi pilem lama Hachiko baik versi jepang maupun versi hollywood. Damn... :)) "Beri makan seekor anjing 3 hari saja dan dia akan selalu ingat denganmu selamanya " Salah satu kalimat di pilem yg masih terngiang sampai detik ini.

Benar2 perih melihat kesetiaan tanpa batas seekor anjing akita bernama hachiko. Susah saya memaparkannya pokoknya tenggorokan kering dan airmata menetes tanpa bisa ditahan. Walopun secara resmi saya belum pernah memelihara anjing tapi saya seorang pecinta anjing juga. Sangat disarankan untuk menonton pilem yg satu ini.

Dalam benak saya dari kecil dulu, kesetiaan itu selalu dekat dg romantisme yg gagah. Baik itu kesetiaan dg pasangan,teman ataupun peliharaan. Hachiko dan War Horse bisa jadi contoh yg indah tentang kesetiaan.

1 jam lebih saya membayangkan Hachiko sambil bermain biola. Endapan kisah itu benar2 menggerakan hati saya. Lelah bermain biola kemudian saya mengingat karakter wayang yg juga mempunyai kesetiaan yg luar biasa. Adipati karna,sulung pandawa, Anak dari Kunti dan Batara Surya.

Karna itu karakter yg kalo dipikir lagi kelahirannya tidak diinginkan semua pihak.

Monday, February 3, 2014

Werkudoro's Way ( Terlanjur Bima )



                                                                         Werkudoro's Way

" I always tell the truth even when i lie.. " Apakah ini Quotes dari Werkudoro ?! No... ini kata2 Al Pacino di pilem legendaris Scarface. :)) Tp kira2 itulah soulnya Werkudoro. The Most Bloko Suto man in the Mahabharata. Mungkin udah berkali2 saya tulis setau saya hanya 3 tokoh saja yg bisa ketemu langsung dg Sang Hyang Wenang, Sang Maha tinggi. Mungkin kalo di keyakinan sekarang maksudnya Tuhan. Rahwana, Werkudoro dan Wisanggeni. Trio yg kurang begitu peduli dg sopan santun tp tinggi tata kramanya.Sama2 fisiknya sangar tp hatinya sebenarnya lembut.

Untuk kali ini sedikit fokus dg Werkudoro. Dari Pandawa lima ini tokoh yg paling gede selera makannya. Nama laennya dlm sansekerta itu Bhima kalo gak salah artinya "Dahsyat ". Untuk anak seumurannya waktu kecil dia paling kuat,paling jahil. Strikernya pandawa kalo mengganggu kurawa. bla.bla.bla.... (sejarah panjangnya sudah banyak yg nulis lah.. :)) )

- Werkudoro menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan bicaranya. Mungkin ini dasar dari sama rata sama rasa. Werkudoroisme. (Walau ada skeptis juga apa yang dia lakukan saat Karna dihina, Atau bisa jadi proses hidup dan kesalahan2nya lah yang menjadikan dia mendapat pelajaran dan menjadi seperti seperti itu...)

- Dia juga pantang keroyokan hobinya 1 on 1.

Sunday, February 2, 2014

Rahwana In Love Edisi Khusus Valentine Part 3



Rahwana In Love Edisi Khusus Valentine Part 3
(selamat tinggal cinta..  )

#membayar utang rasa pada kawan sejalan yg semalam berduet biola dan gitar memainkan lelaki dan telaga..

Di Akhir Part 2 Khayangan lagi geger gara2 tangisan arwah simbok rahwana yg tiada henti membuat suasana tidak tenang. Dewa2 tidak bisa istirahat sama sekali. Kerjaan kacau terbengkalai. Batoro Guru presiden para Dewa nggak mau tau semua persoalan dia serahkan pada Yamadipati dewa kematian yg udah nyabut nyawa Aryati dan Kamajaya dewa cinta yg udah bikin kisah cinta setragis itu buat aryati dan Don Juan De Marno.

 Kamajaya dan Yamadipati padu, engkel2an dan saling menyalahkan. Bahkan sudah siap2 beradu kesaktian nggak ketemu jg jalan keluarnya. Mereka panik karena sudah diultimatum Batoro Guru kalo kasus ini tidak selesai hari ini juga jabatan mereka akan dicopot. Batoro Guru benar2 lagi sensi karena kebetulan saat itu sedang musim dingin dan sakit giginya kambuh dan tambah bunek denger tangisan aryati. Kamajaya vs Yamadipati. duel yg keliatannya akan seru walopun kamajaya itu dewa cinta tp kesaktiannya super jg sedang Yamadipati jgn diragukan lagi seabrek kesaktiannya.